faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan performa yang kurang memuaskan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Hingga pertengahan sesi kedua perdagangan pada Kamis (8/10/2026), indeks saham unggulan Indonesia ini terpantau masih tertahan di zona merah. Berdasarkan data pasar terbaru, IHSG merosot ke level 6.083,68, mengalami penurunan sebesar 63,04 poin atau setara dengan 1,03 persen.
Aktivitas transaksi di bursa hari ini menunjukkan volume yang cukup signifikan, di mana tercatat sebanyak 413,83 juta lot saham telah berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp6.424,65 miliar. Penurunan tajam ini tidak terjadi secara merata di seluruh sektor, melainkan didorong oleh kejatuhan pada beberapa sektor kunci.

Sektor infrastruktur menjadi penyumbang kerugian terbesar dengan anjloknya indeks sektor tersebut hingga 2,9 persen. Tak ketinggalan, sektor energi juga ikut tertekan dengan penurunan sebesar 1,6 persen, disusul oleh sektor material dasar yang terkoreksi 1,4 persen. Beberapa saham dengan kapitalisasi pasar besar seperti PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menjadi faktor utama yang menyeret IHSG ke zona merah. Selain itu, saham BREN dan BRMS juga turut memberikan tekanan berat pada pergerakan indeks.
Meski demikian, tidak semua saham bergerak negatif. Beberapa emiten seperti PT Astra International Tbk. (ASII), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), dan PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) menjadi penopang yang mencoba menahan laju kejatuhan IHSG agar tidak merosot lebih dalam.
Jika menilik lebih jauh, tekanan pada pasar domestik ini merupakan dampak dari dinamika ekonomi global yang sedang tidak menentu. Fokus utama investor saat ini tertuju pada hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) dari rapat The Fed yang dirilis dini hari tadi. Sikap bank sentral Amerika Serikat yang cenderung hawkish atau agresif dalam kebijakan moneter telah memicu lonjakan indeks dolar AS dan kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury.
Kondisi ini menciptakan efek domino yang merugikan pasar negara berkembang (emerging markets) seperti Indonesia. Ketika imbal hasil obligasi AS melonjak, investor cenderung menarik modal mereka dari pasar saham negara berkembang untuk kembali ke aset yang dianggap lebih aman di Amerika Serikat. Hal ini tidak hanya menekan pasar ekuitas, tetapi juga memberikan tekanan tambahan terhadap nilai tukar rupiah.
Situasi serupa juga terlihat di bursa saham Asia lainnya. Indeks Nikkei 225 di Jepang, Kospi di Korea Selatan, serta S&P/ASX 200 di Australia semuanya mencatatkan pelemahan pada perdagangan hari ini. Para pelaku pasar kini tengah menunggu rilis data ekonomi penting lainnya, termasuk laporan keyakinan konsumen di Indonesia dan data pengangguran Amerika Serikat, guna menentukan arah kebijakan suku bunga dan nilai tukar di masa mendatang.







