faseberita.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya pada pembukaan perdagangan Jumat pagi ini. Setelah sempat tertekan pada sesi perdagangan sebelumnya, nilai tukar rupiah akhirnya berhasil melakukan manuver balik dengan menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Berdasarkan pantauan data terbaru dari Refinitiv, rupiah dibuka di level Rp17.925 per dolar AS. Angka ini menunjukkan apresiasi sebesar 0,08 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada perdagangan Kamis kemarin yang sempat menyentuh level Rp17.940 per dolar AS. Meskipun penguatan ini terlihat tipis, momentum ini menjadi angin segar bagi stabilitas moneter domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) yang menjadi barometer kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau berada di posisi 102,107 pada pukul 09.00 WIB. Pergerakan ini menunjukkan dinamika yang sangat ketat antara kekuatan ekonomi Amerika Serikat dengan pasar negara berkembang.
Perjalanan rupiah sepanjang hari ini diprediksi akan penuh dengan volatilitas. Dari sisi domestik, para pelaku pasar tengah mencermati sejumlah isu krusial, mulai dari wacana perombakan atau reshuffle kabinet hingga implementasi kebijakan short selling di pasar modal. Selain itu, pasar juga masih merespons data ekonomi terbaru terkait sektor manufaktur, neraca perdagangan, serta angka inflasi yang telah dirilis pemerintah beberapa waktu lalu.
Kondisi pasar obligasi dalam negeri juga memberikan sinyal yang perlu diwaspadai. Imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun tercatat mengalami kenaikan sebesar 5,3 basis poin menjadi 7,159 persen pada perdagangan Kamis. Kenaikan imbal hasil ini secara otomatis menandakan adanya penurunan harga pada obligasi pemerintah tenor tersebut.
Tekanan eksternal juga datang dari lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury. Sempat menyentuh level tertinggi sejak tahun 2002 di angka 5,34 persen, yield US Treasury kini bergerak di kisaran 5,26 persen. Tingginya imbal hasil di Amerika Serikat ini cenderung menarik aliran modal keluar dari negara berkembang menuju aset berbasis dolar, yang secara langsung memberikan tekanan bagi rupiah.
Selain itu, mata dunia kini tengah menanti rilis data ekonomi penting dari Amerika Serikat, seperti klaim pengangguran, indeks manufaktur ISM, hingga data tenaga kerja non-farm payrolls. Data-data ini akan menjadi kompas utama bagi pasar untuk memprediksi arah kebijakan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).
Situasi semakin kompleks dengan adanya tensi geopolitik di Timur Tengah. Konflik yang terus memanas telah memicu lonjakan harga minyak dunia lebih dari US$4 per barel. Kekhawatiran akan kelangkaan pasokan semakin nyata setelah adanya kabar pengiriman pasukan tambahan oleh AS ke kawasan tersebut, ditambah kebijakan China yang menghentikan ekspor produk minyak ke luar wilayah Hong Kong dan Makau. Kondisi ini menciptakan risiko ketidakpastian energi global yang dapat berdampak luas pada stabilitas ekonomi nasional.







