faseberita.id – Pasar modal Indonesia tengah menghadapi tantangan serius seiring dengan menurunnya minat perusahaan untuk melakukan penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO). Berdasarkan data terbaru, tren perusahaan yang ingin melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan penurunan yang cukup drastis sepanjang tahun 2026. Fenomena ini menjadi sorotan tajam mengingat peran pasar modal sebagai mesin pendanaan utama bagi sektor korporasi di tanah air.
Hingga akhir Agustus 2026, tercatat baru tujuh perusahaan yang berhasil mencatatkan sahamnya di bursa. Dari tujuh emiten tersebut, total dana yang berhasil dihimpun hanya mencapai angka Rp2,16 triliun. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, angka ini menunjukkan penurunan yang sangat signifikan. Kondisi ini menandakan adanya pergeseran sentimen atau hambatan tertentu yang membuat para pelaku usaha berpikir dua kali sebelum memutuskan untuk melantai di bursa.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi, mengungkapkan bahwa penurunan minat ini tidak lepas dari pengaruh situasi global yang sedang tidak menentu. Menurutnya, dinamika pasar internasional, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik di berbagai belahan dunia, menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan perusahaan.
"Penurunan calon perusahaan untuk melakukan IPO dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk dinamika kondisi pasar global dan meningkatnya ketidakpastian geopolitik yang memengaruhi timing perusahaan untuk melaksanakan penawaran umum," ujar Hasan dalam keterangan resminya.
Data dari BEI memperjelas kondisi yang cukup menantang ini. Jika pada periode Januari hingga Agustus 2025 terdapat 22 perusahaan yang melakukan IPO, maka pada tahun 2026 jumlah tersebut merosot tajam hingga 68,2%. Dampaknya tidak hanya pada jumlah emiten, tetapi juga pada nilai dana yang dihimpun. Terjadi anjloknya penghimpunan dana sebesar 79,2%, dari yang sebelumnya mencapai Rp10,39 triliun pada 2025 menjadi hanya Rp2,16 triliun pada 2026.
Meskipun angka realisasi menyusut, OJK menegaskan bahwa masih terdapat antrean perusahaan yang sedang bersiap. Per 6 September 2026, terdapat tujuh perusahaan dalam pipeline yang menargetkan penghimpunan dana maksimal sebesar Rp4,02 triliun. Namun, tidak semua perusahaan tersebut bisa langsung melantai. OJK menekankan pentingnya kualitas keterbukaan informasi. Beberapa rencana IPO dilaporkan belum mendapatkan persetujuan karena perusahaan dinilai masih perlu memperbaiki transparansi dan kualitas laporan mereka.
OJK menegaskan bahwa fokus mereka bukan sekadar mengejar kuantitas atau jumlah perusahaan yang IPO, melainkan lebih mengutamakan kualitas emiten dan total penghimpunan dana. Target penghimpunan dana pasar modal tahun 2026 ditetapkan sebesar Rp250 triliun, di mana hingga 6 September 2026, realisasinya telah mencapai Rp148,3 triliun.
Menariknya, meskipun jumlah IPO berkurang, bukan berarti minat investor terhadap saham baru hilang sepenuhnya. Beberapa saham yang baru melantai di tahun 2026 masih mampu mencatatkan lonjakan harga yang signifikan. Meski demikian, hal ini belum cukup kuat untuk memulihkan fungsi pasar perdana sebagai sumber pendanaan utama perusahaan. Sebagai langkah antisipasi, OJK bersama BEI terus gencar melakukan sosialisasi dan coaching clinic ke berbagai daerah guna mendorong kesiapan perusahaan untuk masuk ke pasar modal.







