faseberita.id – Masa depan industri otomotif Indonesia di ambang perubahan besar. Tekanan daya beli masyarakat dan revolusi teknologi kendaraan listrik (EV) diprediksi menjadi batu sandungan utama hingga tahun 2026. Demikian diungkapkan oleh Agus Tjahajana Wirakusumah, Komisaris Independen PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dalam sebuah diskusi mendalam.
Angka penjualan kendaraan yang stagnan di bawah satu juta unit per tahun selama satu dekade terakhir menjadi indikator jelas betapa beratnya persaingan. Lebih dari itu, evolusi teknologi yang tak terhindarkan, dari mesin pembakaran internal (ICE) menuju era kendaraan listrik (EV) sepenuhnya, menuntut adaptasi radikal dari para pemain industri lokal.

Dampak domino dari perubahan ini tak hanya dirasakan oleh produsen kendaraan, tetapi juga merembet ke sektor industri komponen. Mereka kini dihadapkan pada keharusan untuk merombak lini produksi dan strategi pengembangan, khususnya dalam mendukung ekosistem EV. Fokus utama adalah pada inovasi baterai, baik berbasis Nickel Cobalt Manganese (NCM) maupun Lithium Ferro-Phosphate (LFP), yang menjadi jantung kendaraan masa depan.
Lantas, bagaimana para pelaku usaha menyikapi prospek dan tantangan di tengah gelombang elektrifikasi ini? Penjelasan lebih lanjut mengenai peta jalan industri otomotif dan komponen di era EV dapat disimak dalam ulasan lengkap Shafinaz Nachiar bersama Agus Tjahajana Wirakusumah di program Closing Bell, faseberita.id.







