faseberita.id – Asosiasi Pengusaha Indonesia Apindo menyoroti rencana besar proyek motor listrik nasional. Mereka menegaskan agar inisiatif ini benar-benar membawa dampak positif bagi perekonomian domestik keterlibatan industri dalam negeri adalah harga mati. Analis kebijakan ekonomi Apindo Ajib Hamdani pada Selasa 21 Juli 2026 mempertanyakan apakah motor listrik yang akan diluncurkan nanti murni produk lokal atau sekadar ganti label dari barang impor.
Menanggapi rencana Presiden Prabowo Subianto untuk meluncurkan proyek ambisius ini Ajib menekankan pentingnya komponen lokal. Ia menyebutkan bahwa sasis bodi hingga sistem kelistrikan motor harus memiliki Tingkat Komponen Dalam Negeri TKDN di atas 50 persen. Lebih lanjut Ajib mendesak agar rantai pasok komponen lokal diperkuat dengan melibatkan koperasi dan pelaku usaha kecil.

Jika syarat tersebut terpenuhi Ajib memproyeksikan tiga keuntungan signifikan bagi ekonomi nasional. Pertama motor listrik akan sangat sesuai dengan kebutuhan dan pola penggunaan masyarakat Indonesia. Kedua proyek ini bukan hanya sekadar merancang kendaraan tetapi juga menciptakan alat ekonomi produktif yang mampu mengangkat taraf hidup masyarakat. Terakhir dan tak kalah penting inisiatif ini berpotensi mengurangi emisi gas buang hingga lebih dari 95 persen serta meringankan beban fiskal negara dari subsidi bahan bakar minyak BBM.
Ajib menggarisbawahi besarnya potensi penghematan. Dengan lebih dari 145 juta unit sepeda motor di Indonesia pemerintah saat ini harus mengucurkan lebih dari Rp 500 miliar setiap hari hanya untuk mensubsidi pembelian satu liter Pertalite bagi setiap sepeda motor. Proyek motor listrik nasional ini disambut positif sebagai momentum emas untuk reindustrialisasi dan penguatan ekosistem ekonomi domestik.
Saat ini perekonomian Indonesia masih menghadapi tantangan deindustrialisasi dengan kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto PDB nasional yang hanya berkisar 192 persen. Kondisi ini menurut Ajib menghambat penyerapan tenaga kerja yang optimal dan peningkatan nilai tambah produk. Ia menilai target pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen dan penciptaan 19 juta lapangan kerja dalam lima tahun akan sulit tercapai jika sektor manufaktur tidak didorong secara maksimal.
Ajib membandingkan situasi Indonesia dengan Vietnam yang sektor manufakturnya berkembang pesat. Keberhasilan Vietnam ditopang oleh regulasi yang pro-pertumbuhan ekonomi domestik biaya berusaha yang rendah serta insentif yang tepat sasaran. Hasilnya sektor manufaktur Vietnam mampu berkontribusi lebih dari 23 persen terhadap PDB nasional memicu penciptaan lapangan kerja masif dan mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 839 persen pada kuartal II 2026.

