faseberita.id – Lembaga kajian ekonomi Celios menyuarakan kekhawatiran mendalam terkait kebijakan impor kendaraan pikap dari India untuk Koperasi Merah Putih Direktur Eksekutif Celios Bhima Yudhistira secara tegas memperingatkan potensi bahaya yang mengintai stabilitas ekonomi nasional
Bhima menyoroti risiko defisit perdagangan Indonesia dengan India yang bisa membengkak akibat gelombang impor pikap dalam jumlah besar Ia memperkirakan Indonesia akan terus bergantung pada impor suku cadang dari negara produsen tersebut Kebutuhan valuta asing yang melonjak khususnya dolar Amerika Serikat diperkirakan akan menekan nilai tukar rupiah secara signifikan

Bhima menjelaskan bahwa transaksi impor ini tidak langsung menggunakan rupiah terhadap rupee melainkan akan dikonversi ke dolar AS Pernyataan ini disampaikan dalam diskusi yang diselenggarakan Indonesia Corruption Watch mengenai potensi perburuan rente dalam pengadaan pikap Koperasi Merah Putih di Jakarta pada Jumat 10 Juli 2026
Sebelumnya PT Agrinas Pangan Nusantara telah mengimpor sebanyak 105 ribu unit pikap dari India Kendaraan ini diperuntukkan bagi operasional Koperasi Merah Putih Sekitar 1200 unit mobil produksi Mahindra & Mahindra dilaporkan sudah tiba di Indonesia pada awal Februari 2026 Total nilai kontrak pengadaan impor ini mencapai angka fantastis Rp 2466 triliun
Lebih jauh Bhima menilai masuknya pikap impor dalam skala besar ini berpotensi menggerus kinerja sektor otomotif domestik Hal ini dapat memicu pengurangan kapasitas produksi yang berujung pada efisiensi serta pemotongan bonus karyawan Bahkan kemungkinan terburuknya adalah terjadinya pemutusan hubungan kerja akibat aktivitas impor yang masif ini
Selain itu dengan jumlah dealer Mahindra yang masih terbatas di tanah air akses perbaikan dan ketersediaan suku cadang menjadi tantangan serius bagi pengurus Koperasi Merah Putih Terlebih lagi jika koperasi tersebut beroperasi di wilayah yang kurang strategis







