faseberita.id – Rencana besar pemerintah untuk melakukan konsolidasi atau penggabungan sejumlah Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor konstruksi mulai menemui titik terang. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) telah memetakan langkah strategis dalam proses streamlining atau perampingan perusahaan pelat merah ini agar lebih efisien dan kompetitif.
Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses penggabungan ini tidak akan dilakukan secara serentak kepada seluruh perusahaan. Pemerintah telah menyusun skala prioritas dengan mendahulukan perusahaan-perusahaan yang dinilai memiliki proses integrasi yang lebih sederhana dan minim hambatan teknis.

Menurut Dony, kelompok perusahaan yang akan menjadi pionir dalam gelombang merger ini adalah PT PP (Persero) Tbk (PTPP) dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI). Selain kedua raksasa konstruksi tersebut, perusahaan seperti PT Brantas Abipraya dan PT Nindya Karya (Persero) juga masuk dalam daftar pertama yang akan segera dikonsolidasikan.
"Merger antara PP, Adhi Karya, serta Brantas dan Nindya Karya akan menjadi fokus utama kami. Kelompok ini kami nilai paling mudah untuk segera diselesaikan proses penggabungannya," ujar Dony saat memberikan keterangan di Jakarta, Jumat (2/10/2026).
Langkah ini diambil sebagai tahap awal sebelum pemerintah masuk ke fase yang lebih kompleks. Setelah konsolidasi kelompok pertama ini rampung, pemerintah baru akan menyentuh perusahaan-perusahaan yang memerlukan penanganan khusus dan restrukturisasi mendalam.
Dua nama besar yang menjadi perhatian serius dalam tahap lanjutan adalah PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) dan PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT). Berbeda dengan kelompok pertama, WIKA dan Waskita memerlukan upaya ekstra karena kondisi fundamental perusahaan yang sedang menantang.
Dony menjelaskan bahwa tantangan utama pada WIKA dan Waskita terletak pada kompleksitas struktur keuangan, pengelolaan aset, serta beban kewajiban atau utang yang cukup besar. Oleh karena itu, proses penggabungan mereka tidak bisa dilakukan secara instan tanpa perbaikan internal terlebih dahulu.
"Fokus berikutnya adalah WIKA dan Waskita. Mereka membutuhkan upaya besar dalam hal restrukturisasi, mulai dari investasi kembali pada aset-aset yang ada hingga strategi penurunan beban utang secara signifikan," tambah Dony.
Menariknya, dalam peta jalan konsolidasi ini, Hutama Karya disebut sebagai salah satu BUMN konstruksi yang berada dalam kondisi relatif sehat. Hal ini membuat posisi Hutama Karya berbeda dari WIKA dan Waskita yang harus menjalani proses pembenahan menyeluruh sebelum akhirnya dapat disatukan dalam skema korporasi yang baru.
Melalui strategi bertahap ini, pemerintah berharap penggabungan BUMN karya tidak hanya sekadar menyatukan entitas, tetapi benar-benar menciptakan kekuatan baru yang lebih sehat secara finansial dan mampu bersaing di kancah proyek infrastruktur global.







