faseberita.id – Persaingan sengit antara dua raksasa ritel modern di Indonesia, Alfamart dan Indomaret, kini memasuki babak baru yang sangat menarik untuk disimak. Melalui rilis laporan keuangan terbaru untuk periode kuartal III tahun 2026, terlihat perbedaan performa yang cukup mencolok antara kedua pemain utama di industri minimarket ini. Meskipun keduanya bergerak di sektor yang sama, data keuangan menunjukkan hasil yang sangat kontras mengenai siapa yang sebenarnya lebih mendominasi pasar dari sisi profitabilitas.
Berdasarkan data keterbukaan informasi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT) yang merupakan perusahaan pengelola Alfamart, berhasil menunjukkan taringnya dengan mencatatkan performa yang sangat impresif. AMRT sukses membukukan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,40 triliun. Angka ini menunjukkan pertumbuhan positif sebesar 3,80 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya (year-on-year/YoY) yang berada di angka Rp2,31 triliun.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan apa yang dialami oleh PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET), perusahaan induk yang menaungi Indomaret. DNET justru mengalami penurunan laba yang cukup signifikan. Laba yang dicatatkan perusahaan ini hanya menyentuh angka Rp652,86 miliar, merosot tajam sebesar 22,15 persen dibandingkan capaian tahun lalu yang sebesar Rp838,66 miliar. Jika dilihat secara nominal, kekuatan finansial Alfamart melalui AMRT tercatat sekitar 3,7 kali lipat lebih besar dibandingkan laba yang diraih Indomaret melalui DNET.
Menilik lebih dalam dari sisi pendapatan, AMRT juga menunjukkan tren yang sangat sehat. Pendapatan bersih perusahaan melonjak menjadi Rp101,29 triliun, naik 7,21 persen dari sebelumnya Rp94,48 triliun. Meskipun beban pokok pendapatan mengalami kenaikan sebesar 6,62 persen menjadi Rp79,09 triliun, namun kenaikan ini masih lebih rendah dibandingkan laju pertumbuhan pendapatan. Hal ini membuat laba bruto AMRT tumbuh sebesar 9,35 persen menjadi Rp22,20 triliun.
Di sisi lain, DNET sebenarnya sempat mencatatkan kenaikan pendapatan dari kontrak pelanggan sebesar 9,28 persen menjadi Rp1,34 triliun. Namun, kegembiraan tersebut sirna karena lonjakan beban penjualan yang sangat tinggi, yakni mencapai 25,77 persen menjadi Rp1,06 triliun. Selain itu, beban umum dan administrasi juga ikut membengkak sebesar 14,62 persen. Tekanan biaya inilah yang akhirnya menggerus laba usaha DNET hingga anjlok 28,20 persen menjadi Rp711,32 miliar.
Meskipun Alfamart (AMRT) menunjukkan dominasi yang kuat, mereka tidak lepas dari tantangan. Perusahaan mencatat adanya kenaikan pada beban penjualan dan distribusi sebesar 9,53 persen, serta biaya keuangan yang melonjak hingga 35,82 persen. Bahkan, AMRT sempat mencatatkan kerugian dari entitas asosiasi sebesar Rp18,23 miliar. Namun, berkat strategi pengelolaan pendapatan keuangan yang efektif, laba sebelum pajak AMRT tetap mampu tumbuh stabil sebesar 7,13 persen menjadi Rp3,20 triliun. Fenomena ini menegaskan bahwa dalam perang ritel, efisiensi biaya menjadi kunci utama untuk tetap memimpin di puncak klasemen.







