faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menunjukkan performa yang sangat impresif pada perdagangan sesi I hari ini. Setelah sempat terperosok jauh ke zona merah di awal perdagangan, indeks saham gabungan Indonesia ini berhasil melakukan aksi balik arah yang dramatis hingga kembali ke zona hijau.
Berdasarkan pantauan pasar pada pukul 11:02 WIB, IHSG tercatat berada di level 5.114,21. Angka ini menunjukkan penguatan sebesar 57,16 poin atau melonjak 1,13% dibandingkan penutupan sebelumnya. Bahkan, indeks sempat menyentuh titik tertinggi harian di level 5.116,48.

Perjalanan IHSG hari ini tergolong sangat fluktuatif. Pada pembukaan pasar, IHSG justru dibuka melemah di level 5.039,54, atau merosot 17,51 poin (-0,35%). Tekanan jual sempat mendominasi hingga indeks menyentuh level terendah harian di 4.981,52, yang berarti terkoreksi tajam sebesar 75,53 poin (-1,49%). Bahkan, indeks sempat terperosok di bawah level psikologis 5.000.
Namun, momentum pembalikan arah terjadi secara bertahap sepanjang sesi. Dari titik terendahnya, IHSG mampu melesat naik 132,69 poin atau sekitar 2,66% hingga posisi terakhirnya. Rentang pergerakan harian yang sangat lebar ini menunjukkan volatilitas tinggi di pasar modal. Adapun nilai transaksi yang tercatat hingga pukul 11:02 WIB mencapai Rp5,33 triliun dengan volume sebanyak 169,28 juta lot.
Sektor dan Saham Penggerak
Lonjakan signifikan ini didorong oleh performa gemilang di sektor infrastruktur yang meroket hingga 9,7%. Selain itu, sektor material dasar turut menyumbang kenaikan sebesar 2%, sementara sektor keuangan tumbuh tipis 0,5%.
Beberapa saham yang menjadi motor penggerak kenaikan indeks antara lain PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS), dan PT Bumi Resources Tbk. (BUMI). Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang justru menekan kenaikan, seperti PT Mora Telematika Indonesia Tbk. (MORA), PT Bayan Resources Tbk. (BYAN), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM), PT Adaro Andalan Indonesia Tbk. (AADI), dan PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk. (SRAJ).
Sentimen Global dan Domestik yang Menanti
Pasar keuangan Indonesia kini tengah memasuki pekan yang sangat krusial. Investor sedang menanti sejumlah data ekonomi penting, baik dari dalam negeri maupun dari Amerika Serikat. Di pasar domestik, perhatian tertuju pada rilis data inflasi Oktober 2026, pertumbuhan ekonomi kuartal III-2026, neraca perdagangan, serta cadangan devisa.
Dari sisi regulasi, Bursa Efek Indonesia (BEI) juga tengah bersiap menerapkan aturan baru terkait penghapusan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration/HSC) dari perhitungan IHSG yang mulai berlaku Senin (2/11/2026).
Sementara itu, dari kancah internasional, perhatian dunia tertuju pada pemilu sela di Amerika Serikat yang akan menentukan arah kebijakan fiskal dan politik di sana. Selain itu, rilis data tenaga kerja AS (NFP) dan data manufaktur dari China juga menjadi faktor kunci yang diprediksi akan sangat memengaruhi arus modal asing dan pergerakan nilai tukar rupiah dalam waktu dekat.







