News  

Selat Hormuz: Jantung Energi Global, Apa Dampaknya ke RI?

admin
Selat Hormuz: Jantung Energi Global, Apa Dampaknya ke RI?

faseberita.id – Selat Hormuz, jalur vital yang menghubungkan produsen minyak utama di Timur Tengah dengan pasar global, menjadi sorotan utama dalam stabilitas sistem energi dunia. Gangguan di jalur strategis ini berpotensi memicu gejolak harga energi internasional dan menekan perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia, meskipun tidak secara langsung.

Menurut analisis Indonesia Eximbank Institute, kawasan Timur Tengah memegang peranan krusial sebagai pemasok lebih dari 30 persen produksi minyak dunia. Lebih lanjut, sekitar 20 hingga 30 persen perdagangan minyak global bergantung pada kelancaran arus melalui Selat Hormuz. Head of Indonesia Eximbank Institute, Rini Satriani, menegaskan bahwa setiap hambatan di selat ini dapat dengan cepat memicu lonjakan harga energi global dan meningkatkan biaya logistik perdagangan secara signifikan.

Selat Hormuz: Jantung Energi Global, Apa Dampaknya ke RI?
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Meskipun Indonesia tidak mengimpor minyak secara langsung dari Timur Tengah, dampak gejolak di kawasan tersebut tetap terasa melalui rantai pasok regional. Rini menjelaskan, sekitar 75 persen impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, dua negara yang berfungsi sebagai pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia. Kedua negara ini sendiri sangat bergantung pada pasokan minyak mentah dari Timur Tengah. Oleh karena itu, gangguan pasokan di sana akan turut mendorong kenaikan harga energi yang harus ditanggung Indonesia.

Indonesia Eximbank Institute juga menyoroti potensi dampak terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara ini bukan hanya konsumen energi terbesar dari kawasan Teluk, tetapi juga pasar ekspor yang sangat penting bagi Indonesia. Kenaikan biaya energi di negara-negara tersebut berpotensi menekan aktivitas industri mereka, yang pada gilirannya dapat mengurangi permintaan terhadap produk-produk ekspor Indonesia.

Proyeksi harga minyak dunia sepanjang tahun 2026 diperkirakan akan bergerak dalam rentang US$85 hingga US$120 per barel secara rata-rata, terutama jika ketegangan geopolitik berlanjut dalam periode yang relatif panjang. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berkisar di US$60 per barel.

Kenaikan harga energi dan biaya logistik global berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri. Bagi eksportir Indonesia, tekanan ini akan sangat terasa pada sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. Dalam skenario ini, kenaikan biaya input dapat mengikis margin keuntungan produksi, terutama jika bersamaan dengan perlambatan permintaan global.

Selain itu, volatilitas pasar keuangan global juga dapat memicu tekanan terhadap nilai tukar mata uang negara-negara berkembang (emerging markets), termasuk Indonesia. Pelemahan nilai tukar Rupiah berpotensi meningkatkan biaya impor bahan baku bagi industri domestik, yang pada akhirnya memperbesar tekanan biaya bagi sektor-sektor berorientasi ekspor.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, beberapa komoditas ekspor andalan Indonesia justru menunjukkan tren positif. Batubara, yang berkontribusi sekitar 8 hingga 9 persen terhadap total ekspor nasional, berpotensi mendapatkan dorongan harga signifikan seiring lonjakan harga energi global. Sementara itu, harga minyak kelapa sawit (CPO) tetap menunjukkan performa yang relatif kuat, didukung oleh permintaan global yang masih solid. Selain itu, sejumlah komoditas dengan bahan baku lokal, yang sebelumnya diuntungkan oleh tren penurunan suku bunga, kini memiliki ruang untuk meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar global karena biaya produksi yang lebih efisien.

Rini Satriani menambahkan, kenaikan harga komoditas energi dan agro dapat menjadi penopang kinerja ekspor Indonesia dalam jangka pendek. Namun, volatilitas pada komoditas logam dan sektor industri tetap memerlukan antisipasi serius, terutama jika perlambatan ekonomi global terjadi lebih dalam dari perkiraan.

Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada tahun 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh dalam kisaran 4 hingga 5 persen. Proyeksi ini berpotensi meningkat menjadi sekitar 5 hingga 6 persen pada tahun 2027, dengan catatan pemulihan permintaan global berlangsung bertahap dan tensi geopolitik mereda.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *