faseberita.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan performa yang kurang menggembirakan di pasar keuangan global. Pada perdagangan Selasa (27/10/2026), nilai tukar rupiah terpantau kembali terperosok ke zona merah, melanjutkan tren pelemahan yang terjadi sejak hari sebelumnya. Tekanan terhadap mata uang nasional ini kian nyata seiring dengan menguatnya dominasi dolar Amerika Serikat (AS) di pasar internasional.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah ditutup melemah sebesar 0,19 persen ke level Rp18.145 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan dibandingkan posisi penutupan pada Senin (26/10/2026) yang berada di level Rp18.110 per dolar AS. Kondisi ini sangat mengkhawatirkan bagi stabilitas moneter domestik, mengingat posisi rupiah saat ini hanya berjarak sangat tipis dari rekor terlemah sepanjang sejarah.

Jika menilik catatan masa lalu, rekor penutupan terburuk rupiah terjadi pada 8 Juni 2026 di level Rp18.170 per dolar AS. Saat ini, rupiah hanya terpaut sekitar 25 poin dari titik nadir tersebut, yang menandakan bahwa tekanan terhadap nilai tukar nasional sedang berada pada level yang sangat krusial.
Sepanjang sesi perdagangan, rupiah sebenarnya sempat mengalami fluktuasi yang cukup dinamis. Sejak pembukaan pasar, rupiah sudah langsung berada di zona merah dengan pelemahan awal sebesar 0,06 persen ke posisi Rp18.120 per dolar AS. Nilai tukar bergerak dalam rentang Rp18.120 hingga Rp18.155 per dolar AS sebelum akhirnya menutup hari dengan penguatan tipis 10 poin dari level terendahnya di hari tersebut.
Penyebab utama penyempitan ruang gerak rupiah adalah penguatan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia ini tercatat naik 0,16 persen ke posisi 102,122. Penguatan dolar ini didorong oleh melemahnya mata uang euro serta sikap waspada para pelaku pasar menjelang pengumuman kebijakan suku bunga dari bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed).
Pasar saat ini tengah menanti dengan penuh antisipasi keputusan suku bunga The Fed yang dijadwalkan berakhir pada Kamis dini hari WIB. Meskipun banyak pihak memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga saat ini, namun spekulasi mengenai kemungkinan pengetatan kebijakan lebih lanjut sebelum akhir tahun tetap membayangi. Data dari CME FedWatch menunjukkan adanya peluang sebesar 73 persen untuk setidaknya satu kali kenaikan suku bunga hingga Desember mendatang. Hal ini secara otomatis meningkatkan daya tarik aset-aset dalam denominasi dolar AS di mata investor global.
Selain faktor eksternal dari kebijakan The Fed, kondisi ekonomi domestik juga memberikan tekanan tambahan. Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengungkapkan bahwa defisit transaksi berjalan menjadi salah satu faktor yang membuat rupiah rentan terhadap gejolak global. Pada kuartal II-2026, defisit transaksi berjalan Indonesia tercatat mencapai US$12,49 miliar atau setara dengan 3,34 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB). Angka ini melonjak signifikan dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya berada di level 0,97 persen PDB.
Defisit yang melebar ini menunjukkan bahwa pendapatan dari sektor perdagangan barang, jasa, dan pendapatan lintas negara belum mampu menutupi kewajiban pembayaran ke luar negeri. Kondisi ini menuntut adanya aliran modal asing yang kuat untuk menambal selisih tersebut. Namun, ketika ketidakpastian global meningkat, aliran modal asing cenderung melambat atau bahkan keluar dari pasar negara berkembang, yang pada akhirnya memperberat beban rupiah dalam memenuhi kebutuhan valuta asing.







