News  

IHSG Terjun Bebas Hingga 3 Persen

admin
IHSG Terjun Bebas Hingga 3 Persen

faseberita.id – Pasar modal Indonesia kembali diguncang badai koreksi yang cukup dalam. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan tajam pada perdagangan sesi kedua, Selasa (27/10/2026). Berdasarkan data penutupan pada pukul 15.00 WIB, indeks merosot ke level 5.211,28, atau terpangkas sebesar 161,81 poin atau setara dengan 3,01 persen dibandingkan hari sebelumnya.

Pergerakan indeks hari ini sebenarnya sempat menunjukkan optimisme di pagi hari. Saat pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG berada di posisi 5.357,97 dan bahkan sempat melesat menyentuh titik tertinggi harian di level 5.418,14. Namun, euforia tersebut tidak bertahan lama. Memasuki pukul 10.00 WIB, tekanan jual mulai mendominasi dan membalikkan arah pergerakan indeks menjadi merah.

IHSG Terjun Bebas Hingga 3 Persen
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Setelah sempat tertahan di zona stabil antara 5.340 hingga 5.370 pada tengah hari, IHSG kembali dihantam gelombang aksi jual yang masif mulai pukul 14.00 WIB. Dalam waktu singkat, indeks terjun bebas dari area 5.350 hingga menembus level 5.225, bahkan sempat menyentuh titik terendah harian di 5.210,29. Meski sempat ada upaya pemulihan singkat ke kisaran 5.275, kekuatan pasar tidak cukup untuk menahan laju pelemahan.

Berdasarkan data dari Refinitiv, penyebab utama anjloknya IHSG adalah performa buruk di sektor infrastruktur yang merosot hingga 6 persen. Sektor material dasar juga turut membebani pasar dengan penurunan 3,5 persen, disusul sektor teknologi yang melemah 2,9 persen. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang menjadi beban utama indeks antara lain BBRI, BMRI, TLKM, BYAN, dan BREN. Di sisi lain, saham seperti UNTR, ASII, AADI, INTP, dan HMSP justru memberikan kontribusi positif sebagai penahan koreksi.

Kondisi pasar yang tidak menentu ini dipicu oleh kombinasi sentimen global dan domestik. Dari sisi internasional, ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi sorotan utama. Pertemuan antara delegasi Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dengan pejabat Iran di Teheran diharapkan mampu meredakan konflik, namun ancaman serangan dari Amerika Serikat terhadap Iran serta ketidakpastian di Selat Hormuz tetap membuat investor waspada.

Hal ini juga berdampak pada fluktuasi harga minyak dunia. Minyak Brent tercatat turun 0,8 persen ke level US$115,81 per barel, sementara WTI merosot 1,46 persen ke US$101,76 per barel. Meskipun harga minyak terkoreksi, risiko gangguan pasokan energi global tetap membayangi pasar keuangan.

Di dalam negeri, Bursa Efek Indonesia (BEI) sebenarnya tengah berupaya memperkuat kepercayaan investor melalui rangkaian kebijakan baru. Mulai 2 November 2026, BEI akan menerapkan aturan ketat terkait pengawasan transaksi mencurigakan dan penanganan saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (HSC). Saham kategori HSC nantinya akan dikecualikan dari penghitungan IHSG guna meningkatkan transparansi dan likuiditas pasar. Namun, pada perdagangan hari ini, sentimen negatif global tampaknya jauh lebih kuat mendominasi psikologi pasar.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *