faseberita.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini tengah menghadapi tekanan hebat yang cukup mengkhawatirkan. Mata uang Garuda dilaporkan terus menunjukkan tren pelemahan yang signifikan, bahkan mulai merangkak mendekati angka psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik mengingat volatilitas yang terjadi cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, meskipun sempat terjadi sedikit pergerakan positif, rupiah masih berjuang keras di tengah gempuran mata uang greenback. Pada penutupan perdagangan Jumat (23/10/2026), rupiah tercatat berada di posisi Rp18.040 per dolar AS. Meskipun ada sedikit penguatan tipis sebesar 0,03%, angka ini tetap menunjukkan posisi yang sangat lemah jika dibandingkan dengan periode sebelumnya. Hal ini terjadi setelah sebelumnya rupiah sempat terperosok melemah 0,25% pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026).

Di sisi lain, kekuatan dolar AS semakin tak terbendung. Indeks dolar AS (DXY), yang menjadi tolok ukur kekuatan mata uang Amerika terhadap enam mata uang utama dunia lainnya, terpantau terus merangkak naik. Hingga pukul 09.00 WIB, indeks tersebut menguat 0,19% ke posisi 101,802. Fenomena ini menjadi sinyal kuat bahwa dominasi dolar AS di pasar global sedang berada di puncaknya.
Menanggapi fenomena ini, Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi Moneter Bank Indonesia (BI), Firman Mochtar, memberikan penjelasan mendalam mengenai penyebab utama di balik penguatan dolar yang masif tersebut. Menurutnya, salah satu pemicu utamanya adalah melonjaknya imbal hasil (yield) US Treasury yang kini telah tumbuh di atas angka 5 persen.
"Kenaikan imbal hasil ini membuat persepsi investor untuk menanamkan modal di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia, menjadi berkurang. Akibatnya, permintaan terhadap dolar Amerika Serikat melonjak tajam, yang kemudian mendorong indeks dolar AS terus menguat," ujar Firman dalam sebuah taklimat media di Gedung BI, Jakarta.
Lebih lanjut, Firman menjelaskan bahwa penguatan indeks dolar terhadap negara-negara maju secara otomatis akan menekan mata uang di negara-negara berkembang. "Dampaknya adalah mata uang negara berkembang akan menjadi lemah, termasuk Indonesia," tambahnya.
Selain faktor eksternal berupa kebijakan moneter Amerika Serikat, terdapat pula tekanan dari sisi domestik. Firman menyebutkan bahwa pengumuman terkait MSCI yang akan mendiskusikan status pasar saham Indonesia untuk menjadi standalone market turut memberikan tekanan tambahan. Hal ini memicu terjadinya aliran modal keluar (capital outflow) dari pasar keuangan Indonesia.
Kombinasi antara tekanan global dari penguatan dolar dan tekanan domestik dari arus keluar modal inilah yang secara akumulatif menekan nilai tukar rupiah hingga ke level yang sangat menantang saat ini. Para pelaku pasar kini tengah menanti langkah strategis dari otoritas moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global tersebut.







