News  

Rupiah Terancam Ini Penentu Nasibnya

admin
Rupiah Terancam Ini Penentu Nasibnya

faseberita.id – Stabilitas nilai tukar rupiah dihadapkan pada tantangan serius yang memerlukan suntikan modal asing lebih besar. Bukan sekadar suku bunga, pasar obligasi justru menjadi kunci utama yang menentukan gerak mata uang Garuda. Demikian diungkapkan Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian.

Menurut Fakhrul, meskipun investor asing mulai melirik kembali obligasi Indonesia, proses ini masih dalam tahap awal. Agar arus modal berkelanjutan, pasar obligasi domestik harus menawarkan imbal hasil yang benar-benar menggiurkan, mengingat risiko global yang masih membayangi.

Rupiah Terancam Ini Penentu Nasibnya
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Langkah Bank Indonesia (BI) memperketat pengelolaan likuiditas, termasuk kenaikan suku bunga acuan tiga kali hingga mencapai 5,75 persen, dinilai sebagai fondasi yang tepat. Namun, Fakhrul menegaskan, keberhasilan penguatan rupiah ini sangat bergantung pada kesinambungan kebijakan dari BI dan Kementerian Keuangan.

"Rintangan berikutnya bukan lagi meredakan tekanan pada rupiah, melainkan membangun keyakinan kuat di mata investor," jelas Fakhrul. Ia menambahkan, proses normalisasi pasar obligasi harus dijalankan secara konsisten hingga Indonesia kembali menjadi destinasi investasi portofolio utama di Asia.

Laporan tim ekonom Bank Rakyat Indonesia (BRI) menunjukkan, investor asing membukukan aliran modal masuk sebesar Rp 70,39 triliun pada Juni 2026 melalui Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Sementara itu, Surat Berharga Negara (SBN) menarik modal asing sebesar Rp 21,03 triliun. Peningkatan imbal hasil SRBI menjadi pemicu utama.

Meski demikian, ada catatan penting. Rasio bid-to-cover untuk SBN dan SRBI pada Juni 2026 tercatat di bawah rata-rata historis tahun sebelumnya. Bid-to-cover SBN hanya 1,82 kali, jauh lebih rendah dari 3,19 kali pada 2025. Serupa, bid-to-cover SRBI tercatat 1,98 kali, turun dari rata-rata 2,80 kali di 2025.

"Penurunan rasio bid-to-cover secara bersamaan pada SBN dan SRBI mengisyaratkan minat investor terhadap aset keuangan domestik masih relatif minim secara keseluruhan," demikian kesimpulan tim ekonom BRI. Ini menjadi sinyal bahwa upaya menarik modal asing perlu strategi yang lebih mendalam dan konsisten.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *