faseberita.id – Setelah berhari-hari terpuruk, nilai tukar rupiah akhirnya melakukan comeback dramatis pada perdagangan hari ini. Mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan, mengakhiri sesi di zona hijau terhadap dolar Amerika Serikat, sebuah kejutan yang memutus tren negatif berkepanjangan.
Berdasarkan data terkini dari Refinitiv, rupiah menutup perdagangan Rabu (16/9/2026) dengan performa positif di level Rp17.675 per dolar AS, menguat tipis 0,03 persen. Penguatan ini menjadi penanda berakhirnya rentetan pelemahan yang telah berlangsung selama empat hari perdagangan berturut-turut.

Perjalanan rupiah hari ini tidaklah mulus. Di awal sesi, mata uang domestik sempat tertekan hingga menyentuh Rp17.700 per dolar AS pada pembukaan. Bahkan, rupiah sempat terseok-seok mencapai posisi terlemah hari ini di Rp17.740 per dolar AS. Namun, menjelang penutupan pasar, momentum berbalik. Tekanan jual mereda, dan rupiah berhasil pulih, ditutup menguat 65 poin dari titik terendahnya.
Di sisi lain, patokan dolar global, Indeks Dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, terpantau melemah 0,05 persen ke posisi 99,564 pada pukul 15.00 WIB. Pelemahan DXY ini terjadi setelah sebelumnya sempat menguat 0,12 persen di level 99,730 pada pukul 09.00 WIB.
Rupiah memang memperoleh celah untuk bernafas lega seiring koreksi yang dialami dolar AS. Meski demikian, penguatan mata uang Garuda masih terbatas. Sentimen kehati-hatian mendominasi pasar menjelang pengumuman keputusan suku bunga bank sentral AS The Federal Reserve atau The Fed.
The Fed diketahui sedang menggelar pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 15-16 September 2026. Arah kebijakan moneter terbaru akan diumumkan pada Kamis dini hari waktu Indonesia. Pelaku pasar secara luas memprediksi The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin, dengan kemungkinan kenaikan mencapai sekitar 90 persen.
"Kenaikan 25 basis poin sudah diperhitungkan sekitar 90 persen, sehingga dolar hanya akan mendapat dorongan moderat jika The Fed menaikkan bunga," ujar Carol Kong, seorang Ahli Strategi Mata Uang dari Commonwealth Bank of Australia, seperti dikutip dari Reuters.
Jika terealisasi, ini akan menjadi kenaikan suku bunga pertama The Fed dalam lebih dari dua tahun terakhir, atau sejak 2023. Namun, fokus investor tak cuma pada besaran kenaikan, melainkan juga pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai arah suku bunga berikutnya.
Apabila The Fed menaikkan suku bunga tetapi Warsh mengisyaratkan jeda atau meredam peluang kenaikan lanjutan, dolar berpotensi kembali melemah. Kondisi ini bisa membuka ruang penguatan lebih besar bagi rupiah. Sebaliknya, kenaikan bunga yang disertai indikasi kebijakan agresif atau sinyal pengetatan lanjutan dapat kembali mengangkat dolar dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Pasar juga menghadapi kemungkinan kecil The Fed mempertahankan suku bunga. Keputusan tersebut berpotensi memicu koreksi tajam pada dolar karena berlawanan dengan perkiraan mayoritas pelaku pasar.







