faseberita.id – Badan Gizi Nasional BGN mengambil langkah revolusioner terkait penyaluran insentif bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi SPPG. Wakil Kepala BGN Agustina Arumsari menegaskan model insentif Rp 6 juta per hari yang selama ini berlaku tidak akan lagi diterapkan secara merata. Penyesuaian dana kini akan berpatokan pada jumlah penerima manfaat riil yang dilayani oleh dapur Makan Bergizi Gratis MBG.
Perubahan signifikan ini bertujuan utama mengikis potensi pemborosan anggaran negara. Arumsari menjelaskan skema lama cenderung kurang efisien. Oleh karena itu BGN berkomitmen melakukan penataan ulang menyeluruh mulai dari jumlah dapur hingga validasi data penerima manfaat.

Pembenahan data menjadi prioritas utama. Arumsari menyoroti adanya temuan ketidaksesuaian data. Sebagai contoh dari 27.877 SPPG yang terdata awal ternyata setelah diteliti menyusut menjadi 27.820 unit. Bahkan beberapa SPPG terindikasi menerima insentif ganda. "Ini konsekuensi kami menata ulang fokus kami adalah penerima manfaat yang benar-benar tepat sasaran" ujarnya.
Setelah data penerima manfaat yang akurat terkunci BGN baru akan memastikan jumlah dapur yang dibutuhkan untuk distribusi porsi MBG secara optimal. Transparansi juga ditingkatkan dengan penggunaan virtual account untuk setiap dapur penerima insentif.
Program MBG sendiri menghadapi tantangan anggaran. Semula membutuhkan Rp 335 triliun namun kini dipangkas menjadi Rp 268 triliun. Meski demikian hingga 30 April 2026 program ini telah menjangkau 6196 juta penerima manfaat dan didukung 27952 SPPG. Pernyataan ini disampaikan Arumsari usai rapat dengan Komisi IX DPR RI di Jakarta pada Senin 15 Juni 2026.







