faseberita.id – PT Danantara Investment Management (DIM) menunjukkan performa keuangan yang sangat impresif dalam menjalankan mandatnya sebagai lembaga investasi strategis. Berdasarkan laporan terbaru, perusahaan ini berhasil membukukan laba bersih mencapai US$40,61 juta atau setara dengan Rp705,73 miliar hingga periode 30 April 2026.
Pencapaian ini menandai titik balik yang signifikan bagi perusahaan. Jika menilik data pada periode yang sama di tahun sebelumnya, perusahaan justru mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp131 juta. Lonjakan laba ini bukan sekadar angka biasa, melainkan melesat hingga 506,65% jika dibandingkan dengan total laba bersih sepanjang tahun 2025 yang berada di angka Rp116,33 miliar (US$6,69 juta).

Sebagai lembaga investasi yang dibentuk di bawah arahan Presiden RI Prabowo Subianto, Danantara baru memulai operasi komersialnya pada akhir Oktober 2025 setelah mendapatkan suntikan modal dari para pemegang saham. Hal ini menjelaskan mengapa laporan keuangan tahun 2025 hanya mencerminkan periode operasional yang sangat singkat. Pada empat bulan pertama tahun 2025, perusahaan bahkan belum mencatatkan pendapatan sama sekali dan hanya menanggung beban operasional sebesar Rp132 juta.
Melihat performa di kuartal I tahun ini, pertumbuhan pendapatan perseroan terlihat sangat menjanjikan. Mengutip data dari bursa Singapura, pendapatan perusahaan menyentuh angka Rp1,10 triliun (US$63,01 juta). Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 36,67% dibandingkan dengan total pendapatan sepanjang tahun 2025 yang tercatat sebesar Rp801,24 miliar.
Meskipun pendapatan naik, perusahaan juga menghadapi tantangan dari sisi beban. Beban operasional tercatat sebesar Rp330,56 miliar, atau sekitar 62,89% dari total beban operasional tahun 2025. Sementara itu, beban keuangan mengalami lonjakan tajam sebesar 119,00% menjadi Rp1,01 triliun, naik dari sebelumnya Rp460,74 miliar.
Namun, lonjakan beban tersebut berhasil ditutupi oleh pendapatan non-operasional yang kuat. Amortisasi keuntungan tangguhan (deferred gain) naik drastis 113,75% menjadi Rp644,23 miliar. Selain itu, perusahaan juga menikmati keuntungan selisih kurs sebesar Rp306,03 miliar, sebuah angka yang melonjak jauh dibandingkan hanya Rp64 juta pada tahun 2025.
Dari sisi neraca keuangan per 30 April 2026, total aset perusahaan mengalami pertumbuhan sebesar 6,09% menjadi Rp140,03 triliun, naik dari Rp131,99 triliun pada akhir 2025. Total liabilitas juga meningkat 11,85% menjadi Rp69,20 triliun, yang sebagian besar didorong oleh kenaikan long-term notes sebesar 11,27%.
Di sisi lain, ekuitas perusahaan tumbuh tipis 1,01% menjadi Rp70,82 triliun. Pertumbuhan ini sejalan dengan lonjakan laba ditahan yang sangat masif, yakni sebesar 626,76% menjadi Rp818,33 miliar dari sebelumnya Rp112,60 miliar.
Meski demikian, terdapat catatan pada arus kas perusahaan. Arus kas operasional tercatat negatif sebesar Rp15,89 triliun pada empat bulan pertama 2026, berbanding terbalik dengan kondisi tahun 2025 yang mencatatkan arus kas positif Rp236,41 miliar. Kondisi ini berdampak pada penurunan kas dan setara kas sebesar 6,52% menjadi Rp123,03 triliun dari sebelumnya Rp131,62 triliun.







