News  

Katrili: Pupuk Geotermal Inovatif, Harapan Baru Pertanian RI

admin

JAKARTA, faseberita.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) bersama Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) dan PT Agrotekno Estetika Laboratoris meluncurkan inovasi penting di sektor pertanian. Mereka mengembangkan "Katrili," sebuah booster pertanian ramah lingkungan berbasis panas bumi, menandai langkah PGE menuju pemanfaatan energi geotermal yang lebih luas, melampaui produksi listrik.

"Ke depan, bisnis panas bumi tidak hanya berfokus pada listrik, tetapi beyond electricity yang berkontribusi di berbagai sektor, termasuk pertanian," ujar Direktur Operasi PGE, Andi Joko Nugroho, dalam keterangan tertulis pada Sabtu, 25 April 2026. Pernyataan ini menegaskan komitmen perusahaan untuk diversifikasi pemanfaatan energi terbarukan.

Katrili: Pupuk Geotermal Inovatif, Harapan Baru Pertanian RI
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Kolaborasi strategis ini diresmikan melalui penandatanganan joint study development agreement (JSDA) untuk proyek "Beyond-Katrili." Inisiatif ini dirancang sebagai solusi konkret untuk meningkatkan produktivitas pertanian, khususnya di wilayah sekitar operasional panas bumi seperti Sulawesi Utara, yang kerap menghadapi tantangan dalam upaya peningkatan hasil panen.

Melalui proyek Katrili, ketiga pihak mengintegrasikan riset energi panas bumi dengan teknologi pertanian mutakhir. Hasilnya adalah booster pertanian berbasis silika geotermal yang dirancang untuk mengoptimalkan kesuburan tanah, memperkuat daya tahan tanaman terhadap hama dan penyakit, serta mendorong peningkatan hasil panen secara berkelanjutan.

Andi Joko Nugroho berharap proyek "Beyond-Katrili" ini dapat menjadi bagian integral dari strategi besar perusahaan. Tidak hanya untuk mendongkrak produktivitas pertanian nasional, tetapi juga untuk memperluas spektrum pemanfaatan energi panas bumi yang selama ini lebih dikenal sebagai sumber listrik. "Upaya ini akan terus diperkuat melalui kolaborasi dan riset berkelanjutan agar manfaatnya dapat dirasakan secara luas oleh masyarakat," tambahnya.

Keunggulan Katrili terletak pada formulanya yang memadukan silika geotermal dengan kitosan, sebuah senyawa yang diekstrak dari limbah kulit udang dan kepiting yang melimpah di Tanah Air. Pemanfaatan limbah ini tidak hanya menambah nilai ekonomis, tetapi juga berkontribusi pada pengurangan sampah. Kandungan kitosan dalam Katrili berfungsi vital dalam melindungi tanaman dari stres lingkungan dan meningkatkan kualitas pertumbuhan secara signifikan.

Pengaplikasian Katrili terbilang praktis; cukup dicampurkan dengan air dan disiramkan langsung ke tanah. Takaran penggunaannya dapat disesuaikan dengan karakteristik tanah dan jenis komoditas yang dibudidayakan. Saat ini, Katrili telah diujicobakan pada berbagai komoditas pertanian strategis, seperti tomat varietas Gustavi, kacang batik, bawang merah, dan padi, menunjukkan potensi aplikasinya yang luas dan adaptif.

Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, dalam kesempatan terpisah, menekankan peran krusial perguruan tinggi sebagai jembatan antara riset ilmiah dan implementasi teknologi di tengah masyarakat. "Pengembangan Katrili menjadi contoh konkret integrasi energi dan pangan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam pengembangan energi baru terbarukan di tengah dinamika global yang terus berubah," ujarnya.

Sementara itu, CEO PT Agrotekno Estetika Laboratoris, Alexander H. Soeriyadi, melihat potensi besar kandungan silika dalam meningkatkan daya tahan tanaman serta kualitas dan kuantitas hasil panen. Senada dengan itu, salah satu anggota tim peneliti FT UGM, Pri Utami, memastikan bahwa inovasi ini dibangun di atas pendekatan ilmiah lintas disiplin, secara harmonis menggabungkan bidang geologi, farmasi, dan pertanian untuk menghasilkan solusi yang tidak hanya aplikatif tetapi juga berkelanjutan bagi masa depan pertanian Indonesia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *