faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil menutup perdagangan pekan ini dengan catatan manis. Pada penutupan sesi perdagangan Jumat (6/11/2026), indeks menunjukkan performa positif dengan menguat 0,40 persen atau bertambah 20,17 poin ke level 5.050,43.
Perjalanan IHSG sepanjang hari ini sebenarnya sempat diwarnai dengan volatilitas yang cukup tinggi. Sejak pembukaan pasar, indeks langsung dihantam tekanan jual yang cukup masif hingga sempat merosot ke level 4.955,83. Bahkan, sentimen negatif sempat membawa indeks menyentuh titik terendah harian di angka 4.925,10.

Memasuki sesi pertama, pergerakan pasar cenderung bergerak menyamping atau sideways di rentang 4.930 hingga 4.960. Upaya pemulihan atau rebound yang dilakukan para pelaku pasar di sesi pagi belum cukup kuat untuk membawa indeks menembus angka psikologis 5.000.
Namun, momentum berbalik arah saat memasuki sesi kedua sekitar pukul 14.00 WIB. IHSG tiba-tiba melonjak tajam dan berhasil melampaui level 4.960. Tren penguatan ini terus berlanjut hingga akhirnya indeks berhasil menembus level psikologis 5.000 pada sore hari. Menariknya, IHSG menutup perdagangan tepat di level tertingginya hari ini, yakni 5.050,43.
Berdasarkan data dari Refinitif, penguatan ini didorong oleh performa sektor keuangan yang melesat 2 persen serta sektor konsumer non-kritikal yang naik 1,1 persen. Beberapa saham perbankan raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi motor utama penggerak indeks. Selain itu, saham PT Sinar Mas Multiartha Tbk. (SMMA) dan PT Astra International Tbk. (ASII) juga turut berkontribusi pada penguatan ini.
Di sisi lain, terdapat beberapa saham yang justru menahan laju kenaikan indeks, di antaranya saham sektor energi dan tambang seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA), dan PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS).
Secara fundamental, penguatan ini juga didukung oleh kabar baik dari dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III-2026 mencapai 5,47 persen secara tahunan (YoY). Angka ini merupakan capaian tertinggi sejak awal tahun dan melampaui ekspektasi para ekonom yang sebelumnya memprediksi di angka 5,20 persen.
Meski demikian, investor tetap perlu waspada terhadap dinamika global. Lonjakan inflasi produsen di Zona Euro yang mencapai 11,1 persen serta kebijakan Bank Sentral Inggris (BoE) yang menaikkan suku bunga menjadi 4 persen menjadi sinyal bahwa ketidakpastian ekonomi global masih membayangi. Para pelaku pasar kini tengah mencermati arah kebijakan pemerintah terkait insentif investasi serta perkembangan politik di Amerika Serikat untuk menentukan langkah investasi selanjutnya.







