faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG menunjukkan performa mengejutkan pada perdagangan sesi I Selasa 22 September 2026 siang ini. Saat bursa-bursa utama Asia lain bergairah dan mencatat kenaikan signifikan IHSG justru terperosok lebih dari satu persen. Indeks acuan pasar modal Indonesia itu anjlok 7116 poin atau 111 persen ke level 631357.
Kontrasnya sangat jelas. Bursa NIKKEI Jepang melonjak 138 persen Indeks HSI Hong Kong menguat 013 persen dan Shanghai China naik 01 persen. Namun IHSG justru sendirian di zona merah.

Beban utama yang menyeret IHSG adalah kinerja buruk sektor energi yang anjlok 307 persen. Disusul kemudian sektor real estate yang turun 15 persen dan sektor utilitas yang melemah 12 persen.
Analis mata uang DOO Financial Futures Lukman Leong menjelaskan kepada faseberita.id bahwa penurunan IHSG yang jauh melampaui bursa Asia lainnya disebabkan oleh kombinasi sentimen negatif dari dalam negeri dan global. Kinerja IHSG memang tertinggal jauh dari bursa-bursa Asia lain hari ini ungkapnya.
Lukman menambahkan para investor masih mencermati risiko dan menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia BI. Pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS serta harga minyak dunia yang masih tinggi juga menjadi faktor penekan. Investor juga terpantau melakukan aksi jual masif pada saham-saham berkapitalisasi besar terutama di sektor energi dan perbankan.
Sentimen global pun belum memberikan dukungan memadai. Sikap The Fed yang masih agresif serta imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang tetap tinggi di kisaran lima persen menambah tekanan. Rupiah juga terus menunjukkan pelemahan.
Di sisi lain bursa regional Asia menikmati dorongan kuat dari reli saham teknologi dan semikonduktor yang dipicu optimisme terhadap kecerdasan buatan AI. Namun Lukman menyebutkan bahwa AI tidak terlalu banyak memberikan support ke IHSG karena minimnya eksposur saham teknologi dan semikonduktor di pasar domestik.
Senada dengan Lukman Analis MNC Sekuritas Herditya mengamini bahwa IHSG saat ini berada dalam jalur pelemahan. Ia juga menyoroti ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang memanas serta perkembangan situasi antara Amerika Serikat dan Iran yang terus dicermati pasar.
Herditya menambahkan nilai tukar Rupiah masih melemah terhadap dolar AS dan terpantau berada di level 17897 per dolar AS. Kondisi ini semakin memperberat langkah IHSG.







