News  

IHSG Anjlok Parah Apa Pemicunya

admin

faseberita.id – Indeks Harga Saham Gabungan IHSG Bursa Efek Indonesia ambruk pada perdagangan Rabu sore. Tekanan ganda dari kancah internasional dan dalam negeri membuat indeks acuan ini tak berdaya, merosot 3920 poin atau 064 persen ke level 609139. Senasib, indeks saham unggulan LQ45 juga ikut tergelincir 151 poin atau 025 persen menjadi 60652.

Analis pasar Maximilianus Nico Demus dari Pilarmas Investindo Sekuritas menjelaskan bahwa sentimen eksternal dan internal menjadi beban berat bagi pasar. Dari ranah global, ketegangan yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran menjadi sorotan utama. Iran dilaporkan menembakkan rudal balistik ke posisi AS di Timur Tengah, meskipun militer AS mengklaim berhasil mencegat serangan mendadak tersebut. Tak tinggal diam, pasukan AS bersama Arab Saudi melancarkan serangan balasan terhadap kelompok militan yang didukung Iran di Irak. Di Selat Hormuz, Iran juga menolak mentah-mentah usulan Oman untuk berbagi kendali atas jalur pelayaran vital, bersikeras jalur masuk dan sebagian jalur keluar tetap di bawah kendali Teheran. Eskalasi konflik ini memantik kekhawatiran baru akan gejolak pasokan energi global.

IHSG Anjlok Parah Apa Pemicunya
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Selain itu perhatian investor juga tertuju pada keputusan kebijakan moneter Federal Reserve AS atau FOMC The Fed. Mayoritas pelaku pasar memprediksi The Fed akan mempertahankan suku bunga acuannya dengan probabilitas mencapai 679 persen.

Dari dalam negeri, pengunduran diri mendadak Gubernur Bank Indonesia langsung menyita perhatian lembaga pemeringkat global seperti Moody’s Ratings Fitch Ratings dan S&P Global Ratings. Lembaga-lembaga ini menyoroti pentingnya menjaga kredibilitas kebijakan moneter independensi bank sentral serta konsistensi arah kebijakan ekonomi demi menjaga kepercayaan pasar. "Pandangan dari lembaga tersebut tentunya ini memicu sikap wait and see dari investor yang menanti sosok pemimpin BI yang kredibel," ujar Nico.

Sejak pembukaan IHSG tak mampu keluar dari zona merah, terus tertekan hingga penutupan sesi perdagangan. Dari data Indeks Sektoral IDX-IC hanya dua sektor yang mampu bertahan di zona hijau yaitu barang konsumen primer yang naik 019 persen dan sektor kesehatan yang menguat 006 persen.

Sementara delapan sektor lainnya ambruk. Sektor properti terjun paling dalam dengan penurunan 249 persen disusul sektor industri yang anjlok 244 persen dan transportasi & logistik yang melemah 169 persen.

Di tengah tekanan jual, sejumlah saham berhasil mencatat kenaikan tertinggi seperti MGNA DWGL dan ECII. Namun, saham-saham dengan pelemahan terdalam antara lain ELPI MPRO dan MCAS.

Total frekuensi transaksi mencapai 1955000 kali dengan volume perdagangan 3880 miliar lembar saham dan nilai transaksi fantastis Rp2295 triliun. Rinciannya 186 saham menguat 494 melemah dan 285 stagnan.

Di kancah regional bursa-bursa Asia menunjukkan performa beragam. Indeks Nikkei Jepang melemah 103 persen sedangkan Shanghai Tiongkok menguat 040 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong juga positif naik 196 persen namun Kospi Korea Selatan anjlok 598 persen. Sementara Strait Times Singapura berhasil menguat 157 persen.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *