faseberita.id – Pasar modal Indonesia tengah mengalami transformasi demografi yang sangat signifikan. Berdasarkan data terbaru yang dirilis oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), jumlah investor di pasar modal tanah air kini telah melampaui angka 32 juta orang. Fenomena ini menandakan bahwa minat masyarakat terhadap instrumen investasi semakin meningkat pesat seiring dengan kemudahan akses teknologi finansial.
Menariknya, pertumbuhan jumlah investor ini tidak didominasi oleh kelompok usia mapan, melainkan justru didorong oleh kekuatan generasi muda. Data menunjukkan bahwa mayoritas pelaku pasar saat ini berasal dari kalangan milenial dan Gen Z. Berdasarkan rincian dari Kepala Departemen Pengawasan Lembaga Efek OJK, Edi Broto Suwarno, sekitar 55,25% investor individu saat ini berusia di bawah 30 tahun.

Jika cakupan usia tersebut diperluas dengan kelompok usia 31 hingga 40 tahun, maka proporsi anak muda di pasar modal Indonesia melonjak drastis hingga mencapai lebih dari 80,64%. Hal ini menjadi sinyal positif bagi pertumbuhan ekonomi nasional, di mana generasi muda mulai sadar akan pentingnya perencanaan keuangan jangka panjang melalui investasi.
"Fenomena ini membuktikan bahwa pasar modal Indonesia saat ini semakin dekat dengan generasi muda kita," ujar Edi dalam sambutannya pada acara Ring The Bell For Financial Literacy 2026 yang digelar di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (14/10/2026).
Meski jumlah investor terus meroket, OJK memberikan catatan penting mengenai kualitas pemahaman masyarakat. Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun 2026, terdapat kesenjangan antara jumlah partisipasi dengan tingkat pemahaman. Meskipun kelompok usia 26 hingga 35 tahun mencatatkan indeks literasi sebesar 78,70% dan inklusi keuangan sebesar 96,27%, namun angka untuk sektor pasar modal secara keseluruhan masih tergolong rendah.
Data menunjukkan indeks literasi di sektor pasar modal baru menyentuh angka 17,78%, sementara indeks inklusinya hanya berada di level 1,34%. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun banyak orang sudah mulai menempatkan uangnya di pasar modal, namun belum semuanya dibekali dengan pemahaman risiko dan mekanisme pasar yang memadai.
Edi menekankan bahwa pertumbuhan kuantitas investor harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas literasi. "Pertumbuhan jumlah investor harus diikuti dengan peningkatan kualitas pemahaman investor terhadap keuangan atau tingkat literasi keuangan yang tinggi," tegasnya.
OJK pun terus berkomitmen untuk memperkuat edukasi guna melindungi investor, terutama kaum muda, dari risiko penipuan atau investasi bodong. Salah satu langkah nyata adalah mendukung kegiatan literasi global seperti inisiatif World Organization of Exchange (WFE) yang melibatkan bursa efek dari berbagai negara untuk meningkatkan kesadaran finansial masyarakat secara luas. Melalui sinergi antara edukasi dan kemudahan akses, diharapkan pasar modal Indonesia dapat menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional di masa depan.







