ACEH TENGAH
– Di tengah keterisolasian pascabencana banjir bandang, sebuah kisah heroik terukir di Aceh Tengah. Warga Desa Burlah, Kecamatan Ketol, bersama personel TNI bahu-membahu mengevakuasi jenazah Sarni (50) dengan berjalan kaki menyeberangi sungai berarus deras. Peristiwa penuh perjuangan ini terjadi pada Senin, 15 Desember 2025.
Proses evakuasi jenazah Sarni berlangsung dramatis dan penuh rintangan. Medan yang licin serta jembatan penghubung yang terputus akibat terjangan banjir bandang membuat akses darat menjadi mustahil. Tim gabungan dari warga dan TNI terpaksa memanfaatkan tali sling berupa kabel listrik sebagai pengaman darurat untuk melintasi sungai yang arusnya masih sangat deras.
Jenazah korban digotong secara manual menggunakan kain sarung dan bilah kayu, memastikan pemindahan dilakukan dengan hati-hati dan aman di tengah kondisi alam yang menantang. Informasi yang dihimpun faseberita.id menyebutkan bahwa sebelum bencana, Sarni berada dalam kondisi sehat. Namun, pascabencana, ia diduga mengalami trauma berat yang kemudian memperburuk kondisi kesehatannya hingga akhirnya merenggut nyawanya.
Setelah berhasil menyeberangi sungai dan keluar dari lokasi terisolir, jenazah Sarni kemudian dibawa menggunakan mobil ambulans Puskesmas Ketol menuju rumah duka di Desa Jagong Jeget, Kecamatan Jagong Jeget, Kabupaten Aceh Tengah, untuk disemayamkan.

Komandan Kodim 0106/Aceh Tengah, Letkol Inf Raden Herman Sasmita, membenarkan kegiatan evakuasi jenazah warga tersebut. Ia menjelaskan bahwa medan evakuasi sangat menantang karena harus melalui bantaran sungai dengan arus air yang masih deras, sisa dari dampak hujan dan banjir bandang sebelumnya.
“Proses evakuasi jenazah berlangsung cukup sulit mengingat medan yang harus dilalui berada di bantaran sungai dengan arus air yang masih deras akibat hujan dan dampak banjir bandang sebelumnya,” ungkap Letkol Raden dalam keterangannya.
Lebih lanjut, Letkol Raden menegaskan bahwa keberhasilan evakuasi ini adalah buah dari semangat kebersamaan dan kepedulian antara TNI dan masyarakat. “Evakuasi ini terlaksana berkat kebersamaan dan kepedulian semua pihak. TNI bersama masyarakat bergerak dengan satu tujuan, yaitu membantu warga yang sedang mengalami kesulitan,” tegasnya.
Hingga saat ini, data dari posko penanganan bencana hidrometeorologi Aceh Tengah menunjukkan bahwa Kecamatan Ketol, tempat Desa Burlah berada, masih berstatus terisolir. Sembilan desa di wilayah tersebut, termasuk Burlah, belum memiliki akses darat yang memadai, menyoroti betapa krusialnya peran gotong royong dalam menghadapi dampak bencana.







