faseberita.id – Mata uang tunggal Eropa, Euro, dilaporkan mengalami tekanan hebat hingga menyentuh level terendahnya dalam kurun waktu 17 bulan terakhir terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Penurunan tajam ini terjadi pada perdagangan Senin (5/10/2026), dipicu oleh guncangan hebat di pasar obligasi Prancis yang merembet ke seluruh kawasan zona euro.
Berdasarkan laporan pasar, nilai tukar euro sempat merosot hingga 0,8% ke level US$1,116 pada sesi pagi di London, sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran US$1,121. Jika ditotal sepanjang tahun ini, euro telah kehilangan nilai sebesar 4,5% terhadap dolar AS. Kondisi ini diperparah oleh fluktuasi harga minyak dunia yang sebelumnya telah menekan stabilitas ekonomi kawasan tersebut.

Analis mata uang senior dari MUFG, Lee Hardman, menjelaskan bahwa pelemahan euro ini merupakan dampak langsung dari kekhawatiran pasar terhadap memburuknya kesehatan finansial zona euro. Pemicu utamanya adalah aksi jual besar-besaran terhadap obligasi pemerintah Prancis. Fenomena ini mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun mendekati angka 5%, sebuah lonjakan yang sangat signifikan dibandingkan posisi 3,2% pada akhir Februari lalu.
Krisis ini semakin dalam karena pemerintah Prancis dinilai kesulitan dalam menekan defisit anggaran agar tetap berada di bawah ambang batas 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB). Kegagalan fiskal ini tidak hanya menghantam Prancis, tetapi juga mulai menular ke pasar obligasi negara tetangga seperti Italia. Situasi ini memicu spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa (ECB) harus segera melakukan intervensi guna mencegah efek domino yang dapat merusak stabilitas ekonomi kawasan secara luas.
Selain masalah fiskal, ketidakpastian politik juga menjadi awan mendung bagi ekonomi Eropa. Menjelang pemilihan presiden Prancis tahun depan, muncul kekhawatiran bahwa bangkitnya partai-partai populis akan memperkeruh prospek ekonomi negara tersebut. Ketegangan politik di Eropa semakin terasa setelah Spanyol mengumumkan pemilu dadakan menyusul penolakan rancangan undang-undang perumahan oleh parlemen.
Eric Robertsen, Kepala Riset Global dari Standard Chartered, memberikan catatan kritis bahwa Prancis tampaknya sedang kehilangan kemauan dan kemampuan untuk memperbaiki kondisi fiskalnya. Hal senada juga disampaikan oleh manajer investasi Vanguard yang memperingatkan adanya penurunan kelayakan kredit Prancis, yang kini menjadi pusat perhatian utama terkait keberlanjutan utang di Eropa.
Kondisi ini juga mengubah ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter ECB. Jika sebelumnya pasar memprediksi akan ada tiga kali kenaikan suku bunga, kini ekspektasi tersebut menyusut menjadi hanya dua kali kenaikan dalam setahun ke depan. Hal ini terjadi karena tingginya yield obligasi Prancis membuat ruang gerak ECB untuk menaikkan suku bunga menjadi semakin sempit.
Di sisi lain, euro juga mengalami pelemahan signifikan terhadap franc Swiss, yang mencerminkan pergeseran investor ke aset yang lebih aman (safe haven). Meskipun beberapa analis menilai situasi saat ini belum sepenuhnya menyerupai krisis utang zona euro tahun 2012, pasar tetap berada dalam mode waspada tinggi terhadap potensi krisis baru yang mungkin muncul dari ketidakstabilan Prancis.







