faseberita.id – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk, atau yang lebih dikenal dengan kode saham BRIS, tengah bersiap melakukan langkah strategis besar untuk memperkuat struktur finansialnya. Bank syariah terbesar di tanah air ini berencana melakukan aksi korporasi berupa penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau yang lazim disebut sebagai rights issue tahap kedua.
Dalam rencana ambisius tersebut, BSI akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar lembar saham baru Seri B. Setiap lembar saham baru tersebut akan dipatok dengan nilai nominal sebesar Rp500. Berdasarkan keterbukaan informasi yang disampaikan kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), saham-saham baru ini nantinya akan memiliki kedudukan yang setara dengan saham Seri B yang sudah ada, termasuk dalam hal hak atas pembagian dividen di masa mendatang.

Langkah ini bukan tanpa alasan. Manajemen BSI menegaskan bahwa seluruh dana yang dihimpun dari aksi korporasi ini, setelah dikurangi dengan biaya emisi, akan dialokasikan sepenuhnya untuk memperluas penyaluran pembiayaan. Fokus utamanya adalah untuk mendukung pertumbuhan bisnis perseroan agar semakin agresif di pasar perbankan syariah. Meski demikian, rincian mendalam mengenai alokasi dana tersebut baru akan dipaparkan secara transparan dalam prospektus saat pelaksanaan berlangsung.
Secara fundamental, rights issue tahap kedua ini dirancang untuk memperkokoh permodalan dan meningkatkan kapasitas bank dalam menyalurkan kredit atau pembiayaan kepada masyarakat. Proyeksi keuangan menunjukkan dampak positif yang signifikan. Modal perseroan diperkirakan akan melonjak dari angka Rp51,07 triliun pada tahun 2026 menjadi Rp64,41 triliun pada tahun 2027.
Tak hanya soal jumlah modal, kesehatan bank juga akan terlihat dari peningkatan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR). Rasio ini diprediksi akan merangkak naik dari level 20,38 persen menjadi 23,31 persen. Penguatan modal yang masif ini diharapkan mampu mendorong BSI untuk naik kelas dalam pengelompokan bank berdasarkan modal inti (KBMI) sesuai dengan regulasi yang berlaku di Indonesia.
Namun, ada catatan penting bagi para investor. Dalam jangka pendek, penambahan modal ini diprediksi akan memberikan tekanan pada rasio profitabilitas. Meski demikian, manajemen optimis kondisi ini akan pulih secara bertahap seiring dengan optimalnya penyaluran dana ke dalam aset-aset produktif yang menghasilkan pendapatan.
Bagi para pemegang saham yang memutuskan untuk tidak mengambil haknya dalam aksi ini, perlu diantisipasi adanya risiko dilusi kepemilikan hingga maksimal 12,85 persen. Rencana besar ini akan dibawa ke meja Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang dijadwalkan berlangsung pada Jumat, 6 November 2026. Jika disetujui, BSI menargetkan seluruh proses ini rampung pada kuartal pertama tahun 2027 dengan mekanisme penyetoran saham secara tunai.







