faseberita.id – Kabar mengejutkan datang dari PT Bayan Resources Tbk BYAN. Sang pendiri sekaligus pengendali utama Low Tuck Kwong dikabarkan bakal melepas 10 miliar sahamnya kepada Haji Isam melalui PT Jhonlin Baratama. Keputusan ini sontak memantik tanda tanya besar mengingat Low Tuck Kwong selama ini rutin menikmati aliran dividen fantastis dari perusahaan batu bara raksasa tersebut.
Analisis mendalam mengungkap bahwa dalam sembilan tahun terakhir, Low Tuck Kwong telah mengantongi dividen total mencapai sekitar Rp47,76 triliun dari 12 kali pembayaran, terhitung sejak Juni 2018 hingga Juni 2026. Bahkan, putrinya Elaine Low yang menerima hibah saham pada Agustus 2024 turut kecipratan sekitar Rp4,45 triliun dari tiga pembayaran terakhir. Secara keseluruhan, keluarga ini meraup lebih dari Rp52,21 triliun sejak 2018.

Puncak perolehan dividen Low Tuck Kwong terjadi pada tahun 2022, di mana ia menerima Rp18,42 triliun dari dua kali pembagian. Periode 2022-2023 saja menyumbang Rp30,35 triliun atau sekitar 64 persen dari total dividen yang ia terima sejak 2018. Sebaliknya, tahun 2020 menjadi periode terendah dengan hanya Rp0,53 triliun. Meskipun dividen per saham pada 2026 naik 4,2 kali lipat dibanding 2018, angka tersebut masih jauh di bawah puncaknya pada Desember 2022.
Pergeseran kepemilikan saham juga menjadi bagian dari dinamika ini. Konglomerat Dato Low Tuck Kwong diketahui telah menghibahkan sebagian besar saham BYAN kepada putrinya Elaine Low pada 28 Agustus 2024. Transaksi negosiasi senilai Rp101,8 triliun ini dilakukan dengan harga di bawah pasar, meskipun nilai pasar saat itu mencapai Rp122 triliun. Pasca hibah, porsi saham Low Tuck Kwong berkurang, namun kepemilikan gabungan keluarga tetap stabil di kisaran 62 persen.
Kini, perhatian tertuju pada kesepakatan dengan Haji Isam. Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat telah ditandatangani pada 16 September 2026, mencakup sekitar 30 persen saham BYAN. Transaksi ini belum final dan masih menunggu pemenuhan sejumlah persyaratan. Rumor yang beredar sebelumnya menyebut Haji Isam sempat menawar US$3 miliar untuk sekitar 62 persen saham BYAN, setara Rp53,1 triliun.
Sejarah BYAN sendiri berawal dari Haji Asri yang mendirikan PT Gunung Bayan Pratamacoal pada era 1990-an. Low Tuck Kwong, yang kala itu seorang kontraktor, kemudian terlibat dalam sengketa kepemilikan yang akhirnya dimenangkan olehnya. Peristiwa ini mengukuhkan kendali Low atas Gunung Bayan yang kemudian berkembang menjadi Bayan Resources, mengantarkannya menjadi salah satu orang terkaya di Indonesia.
Pasar kini menanti pengumuman resmi mengenai harga transaksi, jumlah saham pasti yang dialihkan, serta dampak perubahan struktur kepemilikan dan pengendalian BYAN setelah seluruh syarat terpenuhi. Babak baru kendali atas raksasa batu bara ini akan segera terungkap.







