faseberita.id – Bank Indonesia (BI) memberikan jaminan kuat terkait kondisi cadangan devisa negara. Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan bahwa jumlah cadangan devisa Indonesia saat ini lebih dari memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak global.
Perry menjelaskan bahwa BI selalu mengacu pada indikator kecukupan yang ditetapkan Dana Moneter Internasional (IMF) yang dikenal sebagai adequacy reserve asset. Ia menyebutkan, berdasarkan pengukuran tersebut, cadangan devisa Indonesia kini berada di level 115 persen lebih, jauh melampaui batas aman. Angka ini, menurut Perry, cukup untuk menopang intervensi BI serta membiayai impor selama enam bulan ke depan. Publik diminta tidak perlu khawatir.

Data terbaru BI menunjukkan bahwa pada akhir Mei 2026, cadangan devisa tercatat sebesar 144,9 miliar dolar AS, atau setara dengan Rp 2.630 triliun dengan kurs Rp 18.160 per dolar AS. Angka ini memang sedikit menurun 1,3 miliar dolar AS dari posisi April yang mencapai 146,2 miliar dolar AS.
Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa fluktuasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Penerbitan global bond pemerintah serta penerimaan dari sektor pajak dan jasa menjadi pendorong positif. Namun, di sisi lain, pembayaran utang luar negeri pemerintah dan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah oleh BI, sebagai respons terhadap ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman, turut memengaruhi penurunan tersebut.
Meski ada sedikit penurunan, Denny memastikan bahwa secara keseluruhan, posisi cadangan devisa pada Mei tetap kokoh. Ia menambahkan, angka tersebut cukup untuk membiayai impor selama 5,6 bulan, atau 5,5 bulan jika ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kondisi ini jauh di atas standar kecukupan internasional yang umumnya mensyaratkan minimal 3 bulan impor.







