News  

Beyond Energy: Pertamina Pimpin Transisi Hijau & Ketahanan Nasional

admin
Beyond Energy: Pertamina Pimpin Transisi Hijau & Ketahanan Nasional

Jakarta – PT Pertamina (Persero) menegaskan posisinya sebagai garda terdepan dalam transisi energi hijau dan penguatan ketahanan energi nasional melalui inisiatif "Beyond Energy". Komitmen ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, dalam ajang Green Leadership PROPER 2024-2025 yang diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) di Jakarta, Selasa, 10 Februari 2026.

Simon Aloysius Mantiri menjelaskan bahwa "Beyond Energy" bukan sekadar nama, melainkan sebuah visi strategis untuk memantapkan peran Pertamina sebagai pionir dalam transisi menuju energi hijau dan ekonomi sirkular. Langkah ini krusial untuk memastikan ketahanan energi yang harmonis dengan kelestarian lingkungan. Ia juga menekankan bahwa inisiatif ini selaras dengan Asta Cita Presiden Republik Indah dan Gerakan Indonesia ASRI (Aman, Sehat, Resik, dan Indah). "Kami berharap prinsip keberlanjutan yang kami terapkan dapat menjadi fondasi kokoh bagi terwujudnya Indonesia Emas 2045," ujar Simon, optimis.

Beyond Energy: Pertamina Pimpin Transisi Hijau & Ketahanan Nasional
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Untuk mewujudkan visi tersebut, Pertamina mengadopsi "Dual Growth Strategy". Strategi ini berfokus pada dua pilar utama: pertama, mengoptimalkan bisnis eksisting untuk menjamin keamanan pasokan energi nasional saat ini; kedua, secara agresif mengembangkan bisnis rendah karbon dan energi hijau sebagai motor penggerak transisi energi masa depan.

Simon menambahkan, upaya dekarbonisasi menjadi prioritas utama. Ini mencakup pengembangan ekosistem hidrogen hijau, peningkatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan (EBT), serta implementasi proyek Carbon Capture Utilization and Storage (CCS/CCUS) yang berpotensi mengurangi emisi hingga 980 ribu ton COe. Inovasi juga merambah pada produk ramah lingkungan, seperti Bahan Bakar Minyak (BBM) rendah sulfur yang sejalan dengan peta jalan Kementerian ESDM, serta Sustainable Aviation Fuel (SAF) – bahan bakar penerbangan revolusioner dari minyak jelantah (Used Cooking Oil/UCO).

"Ini adalah manifestasi nyata kepemimpinan Pertamina dalam mengorkestrasi transisi energi nasional. Inisiatif ini tidak hanya menurunkan emisi transportasi, tetapi juga mendorong standar BBM yang lebih bersih di seluruh Indonesia," tegas Simon.

Simon menekankan bahwa tantangan lingkungan adalah tanggung jawab kolektif yang menuntut solusi berkelanjutan dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat. Komitmen ini diimplementasikan melalui 151 program pengelolaan sampah nasional yang menjangkau spektrum luas masyarakat, dari perkotaan, pedesaan, hingga komunitas pesisir.

Salah satu program inovatif adalah WASTECO (Waste to Energy for Community) di Balikpapan, di mana sampah organik diubah menjadi gas metana yang kemudian disalurkan langsung ke rumah tangga dan UMKM di sekitar TPA Manggar untuk kebutuhan memasak, menciptakan nilai ekonomi lokal yang signifikan. Selain itu, Pertamina juga gencar mengembangkan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) Desa Energi Berdikari (DEB). Program ini telah tersebar di 252 lokasi, mengintegrasikan pemanfaatan EBT dengan pemberdayaan ekonomi desa. Melalui DEB, pengelolaan limbah di tingkat masyarakat diubah menjadi sumber daya produktif, sekaligus memupuk kemandirian energi dan ekonomi.

Tak hanya fokus pada lingkungan dan energi, Pertamina juga menunjukkan kepedulian mendalam terhadap aspek kemanusiaan. Simon menegaskan bahwa setiap bencana alam harus direspons dengan kehadiran dan bantuan nyata. Sepanjang tahun 2025, Pertamina telah menyalurkan bantuan kebencanaan ke lebih dari 70 kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.

Dengan sigap, Pertamina berupaya menembus berbagai rintangan untuk memastikan pasokan energi seperti Bright Gas, BBM, dan Avtur tetap tersedia untuk kebutuhan dasar dan operasional evakuasi. Bahkan, penyaluran air bersih yang sangat vital bagi para pengungsi juga menjadi prioritas. "Sinergi antara program TJSL Pertamina yang memberikan dampak positif dan operasional bisnis kami, tidak hanya berkontribusi pada penyelamatan lingkungan saat ini, tetapi juga membangun benteng ketahanan masyarakat agar tetap berdaya di tengah terjangan bencana," pungkas Simon.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *