Membongkar Skema Pembiayaan Ambisius Rel Kereta Luar Jawa
faseberita.id, Jakarta – Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan komitmennya untuk mengakselerasi pembangunan jaringan rel kereta api di luar Pulau Jawa. Sebuah proyek ambisius yang akan membentang sepanjang 14.000 kilometer di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi ini diperkirakan menelan investasi fantastis, mencapai Rp 1.200 triliun hingga tahun 2045. Tantangan terbesar, menurut AHY, terletak pada skema pendanaan yang kini menjadi fokus pembahasan serius.

Untuk mengatasi kebutuhan finansial yang masif tersebut, AHY menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan hanya bergantung pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Skema pembiayaan akan diperluas dengan melibatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD), Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha (KPBU), serta membuka lebar peluang investasi dari berbagai pihak, baik domestik maupun internasional. Pernyataan ini disampaikan AHY dalam keterangan tertulis yang diterima faseberita.id pada Kamis, 23 April 2026.
Sebagai langkah konkret, pemerintah saat ini tengah memfokuskan kajian awal pada pengembangan jalur di Sumatera bagian utara, khususnya ruas Banda Aceh-Besitang. Proyek ini masih dalam tahap perhitungan detail dan pendalaman teknis. Selain itu, untuk menjamin efektivitas perencanaan dan implementasi, pemerintah juga menyiapkan penguatan kelembagaan. Pengembangan jaringan akan dilakukan secara bertahap, memadukan pembangunan jalur baru dengan reaktivasi jalur lama, yang akan berlangsung dalam jangka menengah hingga panjang.
AHY menegaskan bahwa pengembangan infrastruktur perkeretaapian di luar Jawa merupakan prioritas strategis nasional. Hal ini diharapkan mampu menekan biaya logistik yang selama ini menjadi beban, sekaligus mendongkrak produktivitas daerah-daerah. "Kami berharap kereta api dapat berperan lebih besar, tidak hanya sebagai moda transportasi penumpang, tetapi juga sebagai tulang punggung angkutan barang," jelasnya, menyoroti potensi besar kereta api dalam mendukung ekonomi.
Meski demikian, AHY tidak menampik bahwa sektor perkeretaapian selama ini masih menghadapi tantangan serius berupa keterbatasan investasi, terutama jika dibandingkan dengan alokasi untuk pembangunan jalan. "Terjadi underinvestment di sektor ini. Bukan berarti pembangunan jalan tidak penting, namun kita perlu mencapai keseimbangan agar pengembangan kereta api dapat berjalan lebih optimal dan merata," ungkap AHY, menekankan perlunya reorientasi prioritas investasi.
Saat ini, potret jaringan rel kereta api di Indonesia memang masih sangat terkonsentrasi di Pulau Jawa. Di luar Jawa, pengembangannya belum menunjukkan pemerataan yang signifikan. Sumatera, meskipun sudah memiliki beberapa jaringan, belum sepenuhnya terhubung antar wilayah. Sulawesi masih sangat terbatas, sementara Kalimantan, bahkan belum memiliki infrastruktur kereta api sama sekali. "Kesenjangan inilah yang menjadi perhatian utama kita ke depan untuk segera diatasi," pungkas AHY, menandakan keseriusan pemerintah dalam mewujudkan visi konektivitas nasional yang lebih baik.

