Ancaman Krisis Kemasan Hantui Industri Pangan Nasional
JAKARTA – Industri makanan dan minuman nasional tengah dihadapkan pada situasi genting. Pasokan bahan baku plastik, komponen krusial dalam kemasan produk mereka, diperkirakan hanya akan bertahan untuk dua bulan ke depan. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam di kalangan pelaku usaha, tidak hanya terkait keberlanjutan produksi, tetapi juga lonjakan harga yang signifikan.

Kementerian Perindustrian melalui Direktur Industri Agro, Putu Juli Ardika, mengakui adanya tekanan ini. Meskipun secara ketersediaan stok bahan baku plastik masih dianggap aman dalam jangka pendek, Putu menyoroti kenaikan harga yang dipicu oleh ketidakpastian pasokan energi global, terutama akibat konflik di Timur Tengah.
"Kekhawatiran industri makanan dan minuman terhadap stok di masa mendatang sangat beralasan, mengingat cadangan yang kini tersisa hanya untuk dua bulan," ujar Putu dalam sesi tanya jawab di kantor Kementerian Perindustrian, Jakarta, Selasa (21/4/2026), seperti dilaporkan faseberita.id.
Pemerintah, lanjut Putu, kini memfokuskan upaya untuk memastikan kelancaran pasokan sekaligus meredam lonjakan harga. Salah satu opsi strategis yang tengah dikaji adalah pembebasan bea masuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk sektor industri plastik. "Ini yang diusulkan oleh Pak Menteri, bagaimana agar sementara waktu bisa dibebaskan bea masuknya," tambah Putu.
Tekanan harga plastik ini tidak terlepas dari dinamika pasar global. Sekitar 70 persen pasokan nafta, bahan baku utama dalam produksi plastik, berasal dari kawasan Timur Tengah. Gangguan pada rantai pasok energi dari wilayah tersebut telah memicu lonjakan harga nafta, yang kemudian berdampak langsung pada kenaikan harga resin plastik. Efek domino ini dirasakan oleh berbagai sektor industri yang sangat bergantung pada kemasan, mulai dari makanan dan minuman, produk konsumsi cepat (FMCG), farmasi, logistik, hingga ritel.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO), Shinta Kamdani, memperingatkan bahwa lonjakan harga bahan baku plastik ini berpotensi memberikan tekanan berat pada dunia usaha dan berujung pada ancaman terhadap tenaga kerja. Menurut Shinta, kenaikan harga saat ini telah melampaui pola fluktuasi normal yang biasa terjadi.
Data menunjukkan, harga nafta telah melonjak hampir 45 persen, diikuti oleh kenaikan harga resin Polyethylene Terephthalate (PET) hingga 60 persen. Kondisi ini memaksa pabrik pemasok kemasan untuk mengurangi kapasitas produksi sekitar 20-30 persen, sementara harga kemasan jadi melonjak drastis antara 100 hingga 150 persen.
Menyikapi ketergantungan pada satu wilayah pasok, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa pemerintah tengah aktif mencari alternatif negara pemasok bahan baku plastik. Langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga di tengah kondisi global yang membuat distribusi terganggu dan persaingan antarnegara semakin ketat.
"Kita sudah berhasil mendapatkan alternatif pasokan dari sejumlah negara seperti Afrika, India, dan Amerika," ujar Budi pada Kamis (16/4/2026), seperti dikutip dari Antara dan dilaporkan faseberita.id.
Dengan berbagai upaya ini, pemerintah berharap dapat meredakan tekanan pada industri dan memastikan keberlanjutan pasokan kemasan esensial bagi produk-produk nasional.
Artikel ini disusun dengan kontribusi dari Ilona Estherina Piri.




