faseberita.id – Mata uang Garuda kembali menunjukkan kerentanannya di pasar keuangan global. Setelah sempat mencicipi tren positif selama dua hari berturut-turut, nilai tukar rupiah justru berbalik arah dan ditutup melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (8/10/2026). Tekanan ini membuat mata uang kebanggaan Indonesia tersebut gagal mempertahankan momentum penguatannya di akhir sesi.
Berdasarkan data yang dihimpun dari Refinitiv, rupiah resmi menutup perdagangan di level Rp17.890 per dolar AS. Angka ini menunjukkan pelemahan sebesar 0,08 persen jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari Rabu (7/10/2026) yang berada di level Rp17.875 per dolar AS. Menariknya, pergerakan rupiah sebenarnya sempat menunjukkan sinyal positif pada pembukaan pasar dengan apresiasi tipis sebesar 0,11 persen ke posisi Rp17.855 per dolar AS. Namun sayangnya, penguatan tersebut tidak bertahan lama dan perlahan terkikis hingga akhirnya masuk ke zona merah.

Kenaikan nilai tukar rupiah ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY). Indeks yang menjadi barometer kekuatan mata uang greenback terhadap enam mata uang utama dunia tersebut terpantau naik 0,06 persen ke posisi 102,302 pada pukul 15.00 WIB. Kondisi ini memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Dari sisi domestik, pergerakan rupiah juga dipengaruhi oleh rilis data ekonomi terbaru dari Bank Indonesia (BI). BI melaporkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) untuk periode September 2026 berada di angka 118,1. Meskipun angka ini mengalami sedikit penurunan dibandingkan bulan sebelumnya, posisi IKK masih berada di atas level 100, yang menandakan bahwa optimisme masyarakat terhadap kondisi ekonomi tetap terjaga.
Menariknya, terdapat dinamika unik dalam laporan survei konsumen tersebut. Walaupun Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) mengalami pelemahan menjadi 107,5, namun Indeks Ekspektasi Konsumen (IEK) justru melonjak naik ke level 128,7. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun masyarakat merasa kondisi ekonomi saat ini sedang menantang, mereka memiliki harapan yang jauh lebih baik terhadap prospek ekonomi dalam enam bulan ke depan.
Di kancah internasional, sentimen negatif datang dari peringatan keras International Monetary Fund (IMF). Direktur Pelaksana IMF, Kristalina Georgieva, menyoroti risiko meningkatnya tekanan inflasi global yang dipicu oleh ketidakpastian geopolitik dan gangguan rantai pasok. Menurutnya, kenaikan biaya energi dan lonjakan investasi di sektor kecerdasan buatan (AI) berpotensi membuat inflasi tetap tinggi, yang pada akhirnya dapat menghambat pertumbuhan ekonomi dunia.
Georgieva juga menyarankan agar bank sentral di berbagai negara bersikap lebih agresif dan hati-hati dalam menerapkan kebijakan moneter. Pernyataan ini memicu kekhawatiran pasar bahwa suku bunga global akan tetap tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama, yang secara otomatis meningkatkan daya tarik aset di negara maju dan menekan mata uang negara berkembang.
Selain faktor inflasi, pelaku pasar saat ini tengah menanti rilis data klaim pengangguran awal (initial jobless claims) Amerika Serikat. Data ini dianggap sangat krusial untuk membaca kekuatan pasar tenaga kerja AS, yang nantinya akan menjadi kompas bagi kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) di masa mendatang.







