News  

Strategi Besar Danantara Rapikan BUMN

admin
Strategi Besar Danantara Rapikan BUMN

faseberita.id – Langkah besar tengah diambil oleh Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) dalam melakukan penataan ulang terhadap struktur Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di Indonesia. Dalam upaya menciptakan efisiensi dan produktivitas yang lebih tinggi, Danantara dilaporkan telah melakukan langkah drastis dengan menutup atau merampingkan sebanyak 354 entitas perusahaan negara.

Upaya perampingan atau streamlining ini menjadi fokus utama dalam pertemuan strategis antara pihak Danantara dengan Presiden RI, Prabowo Subianto. Agenda tersebut membahas mengenai langkah konkret pemerintah untuk mengoptimalkan aset-aset negara agar tidak hanya menjadi beban, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata bagi perekonomian nasional.

Strategi Besar Danantara Rapikan BUMN
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, mengungkapkan bahwa proses konsolidasi ini sedang berjalan secara intensif. Menurutnya, target besar akan diarahkan pada awal tahun 2027, di mana optimalisasi aset, peningkatan produktivitas, serta efisiensi operasional harus sudah menunjukkan hasil yang signifikan.

"Kami sedang melakukan optimalisasi aset-aset BUMN, meningkatkan produktivitas, serta efisiensi. Selain itu, kami juga membuka pintu lebar-lebar untuk kerja sama yang lebih luas dengan sektor swasta dan dunia usaha," ujar Rosan saat memberikan keterangan di Istana Presiden, Senin (5/10/2026).

Rosan menjelaskan bahwa alasan utama di balik pemangkasan jumlah perusahaan ini adalah untuk menghapus entitas-entitas yang sudah tidak produktif atau dalam istilah bisnis disebut sebagai perusahaan dormant. Perusahaan-perusahaan ini secara hukum masih ada, namun secara operasional sudah tidak berjalan atau tidak memberikan nilai tambah bagi negara.

Selain menutup perusahaan yang mati suri, strategi utama Danantara adalah melakukan penggabungan atau merger. Salah satu langkah nyata yang telah diambil adalah penggabungan enam perusahaan manajemen aset yang sebelumnya dimiliki oleh berbagai bank menjadi satu kesatuan. Begitu pula dengan sektor perhotelan dan kesehatan.

"Dahulu, hampir setiap BUMN memiliki unit bisnis hotel sendiri-sendiri. Sekarang, kami gabungkan sekitar 137 hotel tersebut ke dalam satu holding agar lebih efisien. Begitu juga dengan sektor kesehatan, di mana hampir 75 rumah sakit juga kami konsolidasikan melalui proses streamlining ini," tegas Rosan.

Data yang dipaparkan Rosan menunjukkan kondisi yang cukup memprihatinkan pada struktur BUMN sebelumnya. Dari total 1.074 perusahaan BUMN, ternyata hanya 15 perusahaan yang mampu menyumbang dividen hingga 97 persen. Ironisnya, sekitar 52 persen dari total perusahaan BUMN tersebut justru dalam kondisi merugi.

Menyikapi kondisi ini, Presiden Prabowo Subianto memberikan arahan agar pemerintah lebih fleksibel. Jika ada sektor usaha yang bukan merupakan bidang strategis negara namun bisa dikelola lebih baik oleh pihak swasta, maka pemerintah akan memberikan ruang yang lebih luas bagi dunia usaha untuk mengambil alih atau mengembangkannya.

Dengan perencanaan yang terukur, terstruktur, dan matang, Danantara berkomitmen untuk mengubah wajah BUMN dari sekadar kumpulan perusahaan yang tidak efisien menjadi kekuatan ekonomi yang kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *