faseberita.id – Strategi berburu pendapatan pasif melalui pembagian laba perusahaan atau dividen masih menjadi primadona bagi para investor di pasar modal Indonesia. Di tengah fluktuasi harga saham, mendapatkan arus kas rutin dari dividen dianggap sebagai cara yang efektif untuk memperkuat portofolio investasi jangka panjang.
Bagi investor yang mengincar imbal hasil tinggi, perhatian kini tertuju pada sejumlah emiten dengan kapitalisasi pasar di atas Rp10 triliun yang mampu memberikan dividend yield fantastis. Berdasarkan data perdagangan terbaru, terdapat 10 emiten yang berhasil mencatatkan imbal hasil di atas angka 10 persen.

Jika menilik daftar tersebut, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) muncul sebagai juara dengan yield mencapai 18,6 persen. Menyusul di posisi berikutnya, terdapat PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) yang menawarkan imbal hasil sebesar 16,3 persen.
Menariknya, sektor perbankan yang dikenal stabil juga turut menyumbang dalam daftar ini. Dua raksasa perbankan negara, yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) dengan yield 11,4 persen dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 11,0 persen, membuktikan bahwa saham blue chip tetap bisa menjadi mesin pencetak dividen yang loyal.
Keberagaman sektor dalam daftar ini memberikan fleksibilitas bagi investor untuk menyesuaikan dengan profil risiko mereka. Selain perbankan dan pertambangan, sektor barang konsumsi juga tampil menonjol. PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) menawarkan yield 11,3 persen, sementara PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) mencatatkan angka 10,7 persen. Sektor komoditas lainnya seperti CITA, TAPG, ADRO, dan AADI juga turut melengkapi daftar emiten dengan imbal hasil tinggi ini.
Penting untuk dipahami bahwa perhitungan dividend yield sangat bergantung pada perbandingan antara total dividen tahunan per saham dengan harga saham terkini di pasar. Sebagai ilustrasi, jika sebuah perusahaan membagikan dividen Rp476,96 per saham dan harga sahamnya berada di level Rp4.180, maka yield yang didapat adalah sekitar 11,4 persen.
Perlu dicatat bahwa pergerakan harga saham sangat memengaruhi angka yield. Ketika harga saham mengalami penurunan sementara nominal dividen tetap, maka persentase yield akan terlihat melonjak. Sebaliknya, kenaikan harga saham yang signifikan dapat membuat yield terlihat mengecil meski jumlah dividen yang dibagikan tidak berubah.
Meski angka-angka tersebut terlihat menggiurkan, investor diingatkan untuk tidak terjebak dalam euforia semata. Yield tinggi bukan jaminan bahwa sebuah saham sedang murah atau layak dibeli secara instan. Angka tersebut bersifat historis dan tidak memberikan garansi bahwa perusahaan akan membagikan jumlah yang sama di masa depan.
Sebelum memutuskan untuk masuk, investor sangat disarankan untuk membedah kesehatan finansial perusahaan secara mendalam. Perhatikan pertumbuhan laba bersih, kemampuan menghasilkan arus kas, rasio utang, hingga dividend payout ratio. Jangan sampai terjebak pada saham yang memiliki yield tinggi hanya karena harga sahamnya sedang jatuh atau karena adanya pembagian dividen khusus yang bersifat sekali saja. Jadikan dividend yield sebagai alat bantu analisis awal, bukan satu-satunya kompas dalam mengambil keputusan investasi.







