faseberita.id – Nilai tukar rupiah tengah menghadapi ujian berat setelah nyaris menyentuh angka psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang Garuda ini dipicu oleh penguatan indeks dolar AS yang terus merangkak naik, memaksa pemerintah untuk segera mengambil langkah strategis guna menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung, mengungkapkan bahwa Kementerian Keuangan telah menyiapkan sejumlah instrumen untuk membendung arus pelemahan ini. Salah satu strategi utama yang dijalankan adalah dengan menjaga daya tarik imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) agar tetap kompetitif di mata investor global. Dengan imbal hasil yang menarik, diharapkan aliran modal asing dapat terus masuk ke pasar keuangan dalam negeri.

Untuk mencapai target tersebut, pemerintah aktif menerbitkan berbagai instrumen utang luar negeri, seperti Global Bonds dan Panda Bonds. Dana yang dihimpun dari penerbitan surat utang ini nantinya tidak digunakan secara sembarangan, melainkan ditempatkan di Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat cadangan devisa negara.
"Dana yang terkumpul tersebut akan ditempatkan di Bank Indonesia sebagai cadangan devisa. Cadangan inilah yang menjadi modal utama bagi bank sentral untuk melakukan intervensi dan stabilisasi nilai tukar rupiah. Peran ini sangat krusial bagi Kementerian Keuangan dalam menjaga stabilitas moneter," jelas Juda Agung dalam acara Media Gathering di Bogor, Kamis (2/10/2026).
Selain melalui instrumen utang, Juda menekankan pentingnya menjaga kredibilitas fiskal Indonesia. Menurutnya, kepercayaan investor terhadap kesehatan anggaran negara adalah kunci utama agar aset-aset seperti SBN tetap menjadi primadona bagi para pemegang modal internasional. Jika kredibilitas fiskal terjaga, investor akan merasa aman untuk menanamkan modalnya di Indonesia, yang secara tidak langsung akan memperkuat posisi rupiah.
Kondisi pasar menunjukkan volatilitas yang tinggi pada awal Oktober ini. Setelah sempat menunjukkan penguatan yang cukup signifikan, rupiah justru kembali terperosok ke zona merah. Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,39% ke level Rp17.940 per dolar AS pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Pelemahan ini membalikkan tren positif dari hari sebelumnya saat rupiah sempat menguat ke level Rp17.870 per dolar AS.
Pelemahan ini sejalan dengan penguatan indeks dolar AS (DXY) yang mencapai level tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Tingginya permintaan terhadap dolar AS didorong oleh ketidakpastian geopolitik global, terutama terkait eskalasi konflik antara AS-Israel dengan Iran. Ketegangan ini memicu kekhawatiran inflasi global yang kemudian mendorong investor beralih ke aset berdenominasi dolar sebagai instrumen aman (safe haven). Melalui kombinasi penguatan cadangan devisa dan disiplin fiskal, pemerintah optimis dapat menavigasi rupiah melewati badai ketidakpastian global ini.







