faseberita.id – PT Pelindo (Persero) tengah mengambil langkah besar dalam melakukan transformasi struktural guna memperkokoh fondasi bisnisnya. Melalui program penyederhanaan atau streamlining, perusahaan pelabuhan raksasa milik negara ini berencana memangkas jumlah anak usahanya secara signifikan. Langkah ini diambil untuk memastikan setiap entitas dalam Pelindo Group memiliki peran yang jelas dan tidak tumpang tindih.
Kepala Badan Pengelola (BP) BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria, mengungkapkan bahwa proses transformasi ini merupakan perjalanan jangka panjang. Menurutnya, langkah awal yang paling krusial adalah melakukan penyederhanaan struktur organisasi sebelum akhirnya masuk ke tahap penataan model bisnis yang lebih mendalam.

"Transformasi ini masih akan berlangsung dalam waktu yang cukup lama. Namun, kita harus memulainya dari proses streamlining terlebih dahulu. Setelah struktur organisasi menjadi lebih ramping, barulah kita bisa fokus menata model bisnis agar menjadi lebih tepat dan efisien," ujar Dony sebagaimana dikutip dari laman resmi BP BUMN, Rabu (30/9/2026).
Dalam peta jalan program streamlining tahun 2026, Pelindo menargetkan pengurangan jumlah entitas secara masif. Jika sebelumnya Pelindo mengelola sekitar 41 entitas, target barunya adalah menyisakan 24 entitas saja. Artinya, terdapat 17 anak usaha yang masuk dalam radar penataan.
Hingga saat ini, progres penataan tersebut menunjukkan hasil yang positif. Dari total 17 entitas yang direncanakan untuk ditata, sebanyak 11 entitas telah berhasil menyelesaikan aksi korporasinya. Sementara itu, enam entitas sisanya diproyeksikan akan rampung sepenuhnya paling lambat pada 31 Desember 2026 mendatang.
Proses perampingan ini tidak dilakukan dengan satu cara saja. Pelindo menggunakan berbagai skema strategis, mulai dari penggabungan usaha atau merger, konsolidasi, pelepasan aset atau divestasi, hingga likuidasi bagi entitas yang dinilai tidak lagi sejalan dengan visi perusahaan.
Selain fokus pada pengurangan jumlah anak perusahaan, Pelindo juga melakukan perombakan fundamental pada model manajemennya. Perusahaan tengah beralih dari sistem strategic holding menuju active management. Dengan model baru ini, Pelindo tidak lagi hanya sekadar menjadi induk perusahaan yang memegang kendali strategis, tetapi akan terlibat lebih aktif dan langsung dalam pengelolaan operasional utama.
Perubahan ini akan menciptakan pembagian peran yang lebih tegas antara level holding, regional, service line, hingga ke unit usaha di lapangan. Dony menambahkan bahwa kehadiran Danantara menjadi katalisator penting yang memudahkan proses integrasi ini.
"Keputusan untuk melakukan transformasi ini adalah langkah yang sangat tepat. Dengan adanya konsolidasi di bawah Danantara, segala bentuk transformasi dan integrasi menjadi jauh lebih memungkinkan untuk diwujudkan," tambahnya.
Melalui langkah berani ini, Pelindo berharap tidak hanya sekadar mengurangi jumlah perusahaan, tetapi mampu menciptakan struktur organisasi yang lebih lincah, efektif, dan memiliki kinerja yang jauh lebih kuat untuk bersaing di kancah global. Informasi lebih lanjut mengenai perkembangan ini dapat dipantau melalui kanal resmi di faseberita.id.







