faseberita.id – Pasar saham Indonesia kembali dilanda tekanan hebat pada perdagangan Selasa 15 September 2026 Indeks Harga Saham Gabungan IHSG terjun bebas lebih dari satu persen setelah sempat bergerak liar sepanjang hari.
Data Bursa Efek Indonesia BEI menunjukkan IHSG parkir di level 646115 anjlok 7354 poin atau setara 113 persen Pembukaan sesi sempat menjanjikan di 654477 bahkan sempat menyentuh puncak harian 654960 Namun euforia itu tak bertahan lama tekanan jual masif menyeret indeks hingga menyentuh titik terendah 646101.

Dinamika pasar hari itu memperlihatkan jumlah saham yang menguat dan melemah hampir seimbang Sebanyak 330 saham berhasil naik 332 saham harus menyerah turun sementara 301 saham lainnya tidak bergerak Kapitalisasi pasar BEI tercatat sekitar Rp11261 triliun.
Aktivitas transaksi juga cukup ramai total volume mencapai 2560 miliar saham dengan nilai Rp1267 triliun Frekuensi perdagangan menembus 1756 juta kali Di pasar reguler volume transaksi mencapai 24197 juta lot senilai Rp1065 triliun dengan frekuensi sekitar 175 juta kali.
Penurunan IHSG hari ini tak lepas dari beban berat beberapa sektor dan saham utama Sektor energi memimpin pelemahan dengan anjlok 244 persen disusul sektor keuangan yang merosot 156 persen dan konsumer kritikal turun 116 persen.
Beberapa saham yang menjadi biang kerok utama koreksi IHSG antara lain PT Satria Antaran Prima Tbk SAPX PT Summarecon Agung Tbk SMRA PT Rig Tenders Indonesia Tbk RIGS PT Leyand International Tbk LAPD dan PT Cipta Selera Murni Tbk CSMI Sementara itu beberapa saham mencoba menahan laju koreksi seperti PT Danasupra Erapacific Tbk DEFI PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk CCSI PT Voksel Electric Tbk VOKS PT Alakasa Industrindo Tbk ALKA dan PT Transkon Jaya Tbk TRJA.
Pergerakan IHSG hari ini juga diwarnai beragam sentimen baik dari dalam maupun luar negeri Di kancah domestik perhatian investor tertuju pada pergantian pucuk pimpinan Kementerian Keuangan dari Purbaya Yudhi Sadewa ke Suahasil Nazara.
Suahasil yang baru dilantik Senin 14 September 2026 langsung menegaskan komitmennya menjaga kesehatan dan kredibilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara APBN termasuk memastikan defisit tetap di bawah tiga persen terhadap Produk Domestik Bruto PDB Kebijakan fiskal yang jelas sangat dinantikan investor di tengah tekanan rupiah dan ketidakpastian global.
Dari ranah global eskalasi konflik di Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran pasokan energi dunia Kelompok Houthi yang didukung Iran melancarkan serangan baru terhadap Arab Saudi pada Senin 14 September 2026 setelah sebelumnya jalur pipa minyak East-West Saudi sempat terganggu.
Kondisi ini diperparah dengan Selat Hormuz yang masih tertutup dan upaya diplomatik untuk membukanya kembali menghadapi banyak hambatan Akibatnya harga minyak mentah dunia melonjak pada perdagangan Senin kontrak berjangka minyak West Texas Intermediate WTI naik 124 persen menjadi US$10265 per barel sementara Brent menguat 118 persen ke US$10693 per barel Kenaikan harga minyak berpotensi memicu inflasi dan meningkatkan biaya energi menjadi momok bagi pasar saham global.
Tekanan eksternal lainnya datang dari prospek kebijakan moneter Amerika Serikat Bank Indonesia BI telah mengingatkan bahwa era suku bunga tinggi dalam waktu lebih lama atau higher for longer menjadi tantangan serius bagi negara berkembang Penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS berpotensi menarik aliran modal ke negara maju menekan rupiah dan pasar keuangan domestik.
Investor juga akan mencermati hasil rapat Federal Open Market Committee FOMC yang dijadwalkan pada 15-16 September waktu AS Pasar memperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin dengan peluang kenaikan menuju kisaran 375 persen hingga 400 persen mencapai 924 persen berdasarkan CME FedWatch.







