faseberita.id – Para pakar ekonomi menyoroti urgensi penguatan sektor antara atau midstream dalam industri mineral kritis. Langkah ini dinilai sebagai strategi cerdas dan lebih terjangkau untuk mempercepat hilirisasi, dibandingkan langsung membangun industri hilir yang lebih kompleks. Demikian disampaikan Direktur INDEF Green Transition Initiative Imaduddin Abdullah dalam sebuah diskusi di Hotel Pullman Jakarta pada Rabu 17 Juni 2026.
Sektor midstream sendiri menjembatani proses hulu penambangan dan hilir pengolahan akhir. Imaduddin menjelaskan, banyak komponen vital dalam sektor ini yang sebenarnya bisa dikembangkan dengan mengoptimalkan potensi bahan baku lokal yang melimpah. Sebut saja rangka aluminium, kaca temper, kabel tembaga, kontak listrik, hingga berbagai komponen berbasis timah yang esensial untuk rantai pasok energi bersih.

Menurut Imaduddin, fokus jangka menengah harus diarahkan pada produk berteknologi tinggi yang masih selaras dengan kapabilitas industri Indonesia saat ini. Penguatan sektor antara ini adalah prioritas utama untuk memastikan nilai tambah maksimal terserap di kancah domestik.
Kajian mendalam dari INDEF GTI tahun 2026 menunjukkan hasil menjanjikan. Stimulus fiskal yang terarah pada sektor midstream berpotensi mendongkrak nilai tambah hingga 1439 persen dan memicu geliat sektor hulu sebesar 1422 persen. Lebih jauh lagi, investasi pada pengembangan sumber daya manusia di sektor ini diproyeksikan mampu meningkatkan nilai tambah fantastis hingga 7681 persen serta mendorong ekspor sebesar 1803 persen.
Namun Imaduddin juga mengingatkan bahwa strategi ini bukan tanpa tantangan. Subsidi produksi pada sektor midstream berisiko memicu lonjakan impor bahan mentah dari sektor hulu hingga 2371 persen. Oleh karena itu, langkah ini harus diimbangi dengan penguatan pasokan domestik dan penyempurnaan integrasi rantai pasok dari hulu hingga sektor antara.
Di sisi lain Direktur Pembinaan Pengusahaan Mineral Direktorat Jenderal Mineral dan Batubara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM Cecep Mochammad Yasin memprediksi lonjakan permintaan mineral krusial seperti litium nikel dan kobalt akan terus membumbung hingga tahun 2040. Peningkatan ini dipicu oleh akselerasi inovasi teknologi energi terbarukan kendaraan listrik baterai dan jaringan listrik modern.
Cecep menegaskan bahwa meskipun Indonesia memiliki cadangan mineral kritis yang melimpah sekadar memiliki sumber daya alam saja tidaklah memadai untuk menghasilkan manfaat ekonomi yang optimal. Hilirisasi adalah kunci utama untuk memastikan mineral yang ditambang menghasilkan nilai ekonomi yang jauh lebih optimal bagi perekonomian nasional. Ia mencontohkan transformasi rantai nilai nikel dari bijih mentah menjadi mixed hydroxide precipitate MHP nikel matte prekursor katoda sel baterai hingga produk akhir. Semakin panjang dan kompleks rantai nilai yang terbangun di dalam negeri semakin besar pula dividen ekonomi yang dapat dinikmati Indonesia.
"Dominasi atas sumber daya mineral akan menjadi penentu krusial daya saing global. Masa depan bergantung pada akselerasi hilirisasi adopsi teknologi yang lebih ramah lingkungan serta manajemen sumber daya alam yang bertanggung jawab penuh" pungkas Cecep.







