faseberita.id – Menteri Iftitah Sulaiman Suryanagara melontarkan gagasan berani yang berpotensi mengubah wajah kawasan transmigrasi di Indonesia. Ia mendesak seluruh perguruan tinggi untuk tidak lagi membatasi ilmu di ruang kelas melainkan terjun langsung menjadikan area transmigrasi sebagai laboratorium hidup. Inisiatif ini diharapkan mampu memicu lahirnya inovasi dan riset aplikatif yang secara langsung mengangkat potensi lokal serta membuka keran ekonomi baru bagi masyarakat setempat.
Iftitah menegaskan pentingnya kehadiran sumber daya manusia unggul dalam transformasi transmigrasi. Menurutnya pembangunan kawasan ini membutuhkan banjir ilmu pengetahuan dan teknologi. Gagasan ini disampaikan Iftitah saat memberikan kuliah umum di Universitas Hasanuddin Makassar pada Selasa 11 Agustus 2026.

Lebih lanjut Iftitah menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan tidak boleh berhenti di jurnal atau laboratorium. Ia harus hadir dan memberi manfaat nyata kepada masyarakat. Untuk mewujudkan visi ini Kementerian Transmigrasi mendorong pengembangan pusat studi satelit di kawasan transmigrasi. Melalui konsep laboratorium hidup ini mahasiswa dan akademisi dari berbagai disiplin ilmu dapat melakukan penelitian menguji teori dan menciptakan inovasi berdasarkan permasalahan riil yang dihadapi warga.
Kolaborasi multidisiplin ini mencakup banyak sektor mulai dari pertanian kesehatan pendidikan ekonomi teknologi hingga lingkungan. Iftitah mencontohkan bagaimana pengembangan komoditas kopi memerlukan pendampingan ilmiah. Mulai dari pembibitan perawatan pemetikan pengolahan pengemasan hingga pemasaran semua membutuhkan sentuhan ilmu agar menghasilkan produk berkualitas tinggi dan bernilai jual optimal.
Pendekatan serupa bisa diterapkan pada berbagai komoditas unggulan lain di wilayah transmigrasi. Tujuannya agar kekayaan alam tidak hanya dijual sebagai bahan mentah tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah yang memberikan keuntungan lebih besar bagi masyarakat. Warga lokal harus menjadi aktor utama dalam setiap kegiatan ekonomi bukan sekadar penonton ketika investasi masuk ke tanah mereka.
Oleh karena itu investasi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat. Warga setempat perlu dipersiapkan menjadi tenaga terampil pelaku usaha pemasok bahkan bagian dari kepemilikan ekosistem ekonomi yang berkembang di wilayahnya. Melalui transformasi ini masyarakat transmigrasi diharapkan mengalami peningkatan keterampilan produktivitas pendapatan dan kualitas pelayanan dasar. Pada saat yang sama semakin banyak kesempatan kerja dan usaha yang terbuka.
Indonesia juga dapat belajar dari strategi sirkulasi talenta yang diterapkan Tiongkok. Pelajar dan tenaga ahli diberi kesempatan belajar dan riset di luar negeri lalu kembali membawa pengetahuan pengalaman dan jejaring untuk membangun negaranya.
Iftitah juga menekankan bahwa pembangunan kawasan transmigrasi harus berkelanjutan. Aspek kelestarian lingkungan dan penghormatan terhadap budaya masyarakat setempat menjadi kunci. Ia mencontohkan Kabupaten Kutai Kartanegara yang sebagian kawasannya telah berkembang menjadi hutan konservasi orangutan dan beruang madu sekaligus berpotensi sebagai destinasi wisata. Pembangunan tidak boleh instan dan tidak boleh mengabaikan lingkungan serta budaya lokal.
Kawasan transmigrasi jelas menjadi ruang ideal bagi perguruan tinggi untuk riset inovasi dan pengabdian. Bagi mahasiswa area ini menawarkan pengalaman nyata dan persiapan masa depan. Sementara bagi dunia usaha kawasan ini menyediakan potensi ekonomi yang terencana. Adapun bagi masyarakat transformasi transmigrasi membuka kesempatan untuk meningkatkan keterampilan memperoleh pekerjaan membangun usaha dan menikmati manfaat pertumbuhan ekonomi di daerahnya sendiri.
Transmigrasi bukan sekadar program melainkan strategi untuk mewujudkan Indonesia maju. Semakin berilmu semakin mampu kita melihat potensi mengembangkannya menjadi kekuatan ekonomi dan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

