faseberita.id – Pemerintah Indonesia bersiap menggebrak pasar batu bara global dengan kebijakan relaksasi kuota produksi. Langkah ini diambil menyusul lonjakan harga komoditas energi tersebut di kancah internasional. Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot memastikan, kuota produksi batu bara akan ditingkatkan secara signifikan, menembus angka di atas 600 juta ton untuk tahun 2026.
Keputusan strategis ini, menurut Yuliot, merupakan respons adaptif terhadap dinamika kebutuhan domestik dan peluang pasar global yang menjanjikan. Evaluasi mendalam telah dilakukan Kementerian ESDM, termasuk menyoroti pasokan untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PT PLN (Persero). Dari total kebutuhan PLN sebesar 154 juta ton, sebanyak 134 juta ton sudah terikat kontrak. Ini berarti, PLN masih membutuhkan tambahan 20 juta ton batu bara untuk menjamin operasional listrik nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menambahkan, relaksasi kuota produksi ini adalah langkah terukur pemerintah dalam menyikapi gejolak harga. Konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran menjadi pemicu utama meroketnya harga batu bara. Gangguan distribusi minyak mentah dan gas alam cair (LNG) di pasar global turut memperparah situasi, mendorong harga komoditas ini melambung tinggi.
Data menunjukkan, Harga Batu Bara Acuan (HBA) periode II Juni 2026 telah mencapai US$ 123,91 per ton. Angka ini jauh melampaui HBA pada periode yang sama di bulan Mei 2026 yang tercatat US$ 116,32 per ton. Bahlil menegaskan, di saat harga sedang bagus, produksi juga harus digenjot untuk memaksimalkan keuntungan dan dampak positif bagi negara.
Sebelumnya, pada awal tahun 2026, Kementerian ESDM menetapkan kuota produksi batu bara sekitar 600 juta ton. Angka ini sejatinya lebih rendah 190 juta ton dibanding realisasi tahun 2025 yang mencapai 790 juta ton. Pemangkasan kala itu dilatarbelakangi ketidakseimbangan pasokan dan permintaan yang sempat menjatuhkan harga hingga US$ 97,65 per ton pada Juli 2025. Namun, pecahnya konflik di Timur Tengah mengubah peta permainan, mendorong harga batu bara dari di bawah US$ 120 menjadi di atas US$ 130 per ton hanya dalam sepekan di awal Maret 2026. Kini, pemerintah siap menyesuaikan diri demi meraih peluang emas ini.







