JAKARTA – Pelemahan nilai tukar rupiah yang terus berlanjut hingga menembus level 17.200 per dolar Amerika Serikat menjadi perhatian serius. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi bahwa kondisi ini merupakan hasil interaksi antara faktor global dan sentimen domestik. Purbaya secara khusus menyoroti adanya "kebisingan" atau narasi negatif di dalam negeri yang turut membentuk ekspektasi pasar terhadap mata uang Garuda.
Dalam sesi media briefing di kantor Badan Pendidikan dan Pelatihan Keuangan (BPPK) Kementerian Keuangan pada Jumat, 24 April 2026, Purbaya menjelaskan bahwa "noise" di dalam negeri ini menciptakan persepsi seolah-olah ekonomi Indonesia sedang terpuruk atau ada masalah dalam pengelolaan fiskal. Kabar semacam ini, menurutnya, memicu sentimen negatif yang meluas.

"Rupiah itu dipengaruhi kondisi global dan ekspektasi. Noise yang disebutkan di dalam negeri itu yang membentuk ekspektasi," tegas Purbaya.
Meskipun demikian, Purbaya menegaskan bahwa upaya stabilisasi nilai tukar rupiah bukanlah ranah tugas Kementerian Keuangan, melainkan tanggung jawab penuh Bank Indonesia (BI). "Cuma itu bukan daerah saya. Jadi saya enggak bisa masuk sana," ujarnya, menjelaskan batasan kewenangannya. Pada penutupan perdagangan Jumat, 24 April 2026, rupiah tercatat melemah di level 17.228 per dolar AS.
Menanggapi tekanan yang sama, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, memberikan perspektif dari bank sentral. Dalam keterangan resminya pada Kamis, 23 April 2026, Destry menjelaskan bahwa pergerakan rupiah masih selaras dengan tren pelemahan mata uang di kawasan Asia, dengan depresiasi year-to-date sebesar 3,54 persen.
Destry mengidentifikasi peningkatan ketidakpastian global sebagai pemicu utama tekanan terhadap rupiah, termasuk dampak lanjutan dari konflik di Timur Tengah. Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, Bank Indonesia menyatakan terus meningkatkan intensitas intervensi di berbagai pasar. Langkah-langkah ini meliputi intervensi di pasar offshore (NDF), pasar domestik (spot dan DNDF), serta pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Selain itu, BI juga memperkuat struktur suku bunga instrumen moneter yang pro-pasar. Tujuannya adalah untuk mempertahankan daya tarik aset domestik di tengah eskalasi dampak konflik geopolitik. Destry juga memastikan bahwa cadangan devisa Indonesia tetap kokoh di angka US$148,2 miliar per akhir Maret 2026, yang dinilai sangat memadai untuk meredam gejolak.
"Bank Indonesia senantiasa hadir di pasar dan akan terus mengambil langkah yang diperlukan secara konsisten dan terukur untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah," pungkas Destry, menegaskan komitmen BI dalam menjaga fundamental ekonomi nasional.

