faseberita.id, Jakarta – Penyaluran kredit baru di Indonesia pada triwulan I 2026 menunjukkan perlambatan pertumbuhan dibandingkan periode sebelumnya, demikian hasil survei perbankan terbaru yang dirilis Bank Indonesia (BI). Kendati demikian, sektor konsumsi menjadi penopang utama yang menjaga laju pertumbuhan kredit di awal tahun ini.
Menurut laporan BI pada Rabu, 23 April 2026, perlambatan ini sejalan dengan pola historis yang biasa terjadi. Indikator Saldo Bersih Tertimbang (SBT), yang mengukur pertumbuhan kredit baru, tercatat sebesar 38,74 persen pada triwulan pertama tahun ini. Angka ini mengindikasikan pertumbuhan yang melambat jika dibandingkan triwulan sebelumnya.

Analisis Bank Indonesia (BI) menggarisbawahi bahwa dorongan utama pertumbuhan kredit baru ini berasal dari segmen kredit konsumsi. SBT kredit konsumsi melonjak signifikan, dari 13,39 persen pada triwulan IV 2025 menjadi 51,97 persen di triwulan I 2026. Peningkatan signifikan pada kredit konsumsi ini didorong oleh melonjaknya permintaan untuk kredit multiguna, kredit tanpa agunan (KTA), serta kredit kendaraan bermotor. Namun, di sisi lain, pertumbuhan kredit kartu kredit dan kredit pemilikan rumah (KPR) atau kredit pemilikan apartemen (KPA) justru menunjukkan perlambatan.
Namun, gambaran berbeda terlihat pada sektor kredit investasi dan modal kerja, yang justru mengalami perlambatan pertumbuhan yang cukup tajam. SBT kredit investasi merosot drastis dari 87,32 persen pada triwulan sebelumnya menjadi 37,33 persen di kuartal pertama tahun ini. Penurunan serupa juga dialami kredit modal kerja, dengan SBT yang anjlok dari 88,64 persen menjadi 36,40 persen pada triwulan awal 2026.
Selain itu, survei BI juga menyoroti adanya peningkatan kehati-hatian dalam standar penyaluran kredit perbankan pada triwulan I 2026 dibandingkan triwulan IV 2025. Hal ini tercermin dari Indeks Lending Standard (ILS) yang positif sebesar 0,15. Kebijakan penyaluran kredit yang lebih berhati-hati ini antara lain diterapkan pada aspek jangka waktu kredit dan persyaratan administrasi.
Meski demikian, terdapat proyeksi positif untuk periode selanjutnya. Bank Indonesia memperkirakan standar penyaluran kredit akan kembali melonggar pada triwulan II 2026, dengan ILS negatif sebesar 2,88.
Responden survei juga memprakirakan bahwa outstanding kredit secara keseluruhan akan terus tumbuh hingga akhir tahun 2026. Proyeksi optimis ini didukung oleh prospek kondisi ekonomi dan moneter yang tetap positif, serta risiko dalam penyaluran kredit yang dinilai masih terjaga.
Secara triwulanan, penyaluran kredit baru pada triwulan berikutnya, yakni triwulan II 2026, diprakirakan akan meningkat secara signifikan. Hal ini diindikasikan oleh SBT prakiraan penyaluran kredit baru yang melonjak menjadi 96,65 persen, jauh lebih tinggi dibandingkan angka 38,74 persen di triwulan pertama.

