News  

Jaga Ketahanan Energi, RI Lirik Impor Minyak dari Rusia

admin
Jaga Ketahanan Energi, RI Lirik Impor Minyak dari Rusia

faseberita.id – Indonesia tengah mematangkan rencana impor minyak mentah dari Rusia. Langkah strategis ini, menurut Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia, merupakan upaya krusial untuk memperkuat ketahanan energi nasional melalui diversifikasi pasokan. Pemerintah, tegas Bahlil, bertekad untuk tidak menggantungkan diri pada satu sumber pasokan saja, terutama di tengah dinamika geopolitik global yang penuh ketidakpastian.

Dalam keterangannya kepada wartawan di kantor Kementerian ESDM pada Jumat, 17 April 2026, Bahlil menekankan pentingnya diversifikasi. "Dalam posisi geopolitik yang tidak menentu, kita tidak bisa mengharapkan hanya satu negara. Jadi harus ada diversifikasi," ujarnya, mengutip kembali pernyataan tersebut. Ia juga memastikan bahwa kebijakan ini tidak akan mengganggu hubungan dagang yang telah terjalin baik dengan negara lain, termasuk Amerika Serikat.

Jaga Ketahanan Energi, RI Lirik Impor Minyak dari Rusia
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

Rencana impor minyak ini merupakan tindak lanjut konkret dari kunjungan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto ke Moskow beberapa waktu lalu. Pada 13 April 2026, Presiden Prabowo bertemu langsung dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Istana Kremlin, di mana salah satu agenda utama pembahasan adalah penguatan kerja sama di sektor energi, termasuk potensi pasokan minyak mentah.

Tak hanya minyak mentah, pemerintah juga membuka lebar opsi impor liquefied petroleum gas (LPG) dari Rusia. Bahlil membeberkan data bahwa kebutuhan LPG nasional mencapai angka fantastis, sekitar 8,6 juta ton per tahun. Ironisnya, produksi domestik hanya mampu memenuhi sekitar 2 juta ton. Kesenjangan pasokan yang signifikan ini menjadikan impor sebagai langkah yang tak terhindarkan. Apalagi, kebutuhan LPG diproyeksikan terus melonjak, seiring beroperasinya fasilitas petrokimia baru, seperti pabrik Lotte Chemical yang saja membutuhkan sekitar 1,6 juta ton LPG setiap tahun. Situasi ini, menurut Bahlil, mendesak pemerintah untuk aktif mencari sumber pasokan tambahan dari berbagai negara.

Meskipun demikian, Bahlil belum dapat merinci volume pasti impor minyak mentah maupun LPG yang akan didatangkan dari Rusia. Ia memastikan bahwa harga akan sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar global dan merupakan hasil negosiasi intensif antara kedua belah pihak. Selain itu, pemerintah juga secara paralel tengah menjajaki peluang investasi pembangunan kilang minyak serta fasilitas penyimpanan (storage) bersama Rusia di tanah air.

Namun, Bahlil menggarisbawahi bahwa pembahasan terkait kerja sama pembangunan kilang dan fasilitas penyimpanan ini masih memerlukan beberapa putaran negosiasi lanjutan sebelum mencapai kesepakatan final. "Finalisasinya tunggu ada satu-dua putaran lagi dengan kami, khusus untuk menyangkut dengan kilang dan storage. Nanti baru kami akan sampaikan," pungkas Bahlil Lahadalia.

Kontributor: Sultan Abudurrahman

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *