CIREBON, faseberita.id – Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Cirebon, yang dioperasikan oleh Cirebon Power, kini menghadapi tantangan pasokan batu bara yang kian menipis. Cadangan bahan bakar utama mereka saat ini hanya menyisakan untuk sekitar sepuluh hari operasional, jauh di bawah standar normal. Fenomena ini, yang telah terasa sejak tahun lalu, kini diperparah oleh kebijakan pemerintah terkait produksi batu bara nasional.
Joseph Pangalila, Wakil Direktur Utama Cirebon Power, dalam keterangannya di Cirebon, Jawa Barat, pada Kamis (5/2/2026), menjelaskan bahwa kondisi ini telah berlangsung sejak setahun terakhir. "Kami merasakan berkurangnya stok batu bara sejak setahun lalu," ujarnya.

Penyebab utama menipisnya cadangan ini adalah kebijakan pemerintah yang pada awal tahun 2026 memangkas target produksi batu bara nasional secara signifikan. Target yang semula 790 juta ton pada tahun 2025, kini dipangkas menjadi sekitar 600 juta ton untuk tahun ini. Langkah ini diambil dengan tujuan strategis untuk mengendalikan fluktuasi harga global sekaligus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan energi di dalam negeri.
Dampak dari kebijakan tersebut berpotensi mengurangi ketersediaan batu bara, bahkan dikhawatirkan dapat mempengaruhi pasokan listrik. "Namun, kami tidak berharap itu sampai terjadi," tegas Joseph.
Dalam kondisi normal, cadangan batu bara di Cirebon Power mampu bertahan lebih dari 20 hari. Namun, saat ini, sebagian stok hanya cukup untuk sepuluh hari, bahkan ada yang kurang dari itu. "Sekarang sedikit berkurang. Namun secara umum kondisi di Cirebon masih aman, operasional normal," imbuh Joseph.
Menyikapi situasi ini, Cirebon Power secara aktif meminta perhatian dan keberpihakan pemerintah untuk memastikan penambahan pasokan batu bara ke pembangkit listrik. "Kami tengah menantikan langkah konkret dari pemerintah yang saat ini sedang berdialog dengan para pemasok untuk mengamankan ketersediaan pasokan," kata Joseph.
Mengenai opsi penggunaan bahan bakar alternatif, Joseph menekankan bahwa PLTU Cirebon dirancang dengan spesifikasi teknis yang sangat spesifik untuk jenis batu bara tertentu. "Setiap batu bara punya spesifikasi masing-masing, jadi setiap pembangkit menggunakan batu bara dengan spesifikasi berbeda," jelasnya, sehingga opsi penggunaan bahan bakar alternatif atau jenis batu bara yang berbeda tidak dapat dilakukan.
Meski demikian, Joseph memberikan jaminan bahwa operasional pembangkit tetap berjalan normal dan pasokan listrik untuk masyarakat tetap terjaga. Yang terpenting, Joseph memastikan bahwa pasokan listrik ke jaringan PLN, khususnya menjelang perayaan Idul Fitri, akan tetap aman dan stabil. "Masyarakat tidak perlu khawatir. Ketersediaan listrik selama Idul Fitri akan terjaga, mengingat biasanya banyak pabrik yang menghentikan operasionalnya, sehingga secara otomatis mengurangi beban permintaan listrik," paparnya.
Sebagai informasi, Cirebon Power mengelola dua unit PLTU di Kabupaten Cirebon, masing-masing dengan kapasitas 660 MW dan 1000 MW. Sepanjang tahun 2025, kedua unit pembangkit ini telah menunjukkan kinerja operasional yang prima, berhasil meningkatkan keandalan sistem, dan memberikan kontribusi substansial dalam penyediaan energi listrik nasional. "Berhasil mengembangkan keandalan pembangkit, dan meningkatkan kontribusi dalam penyediaan energi listrik nasional," tutup Joseph.







