News  

Gejolak Timur Tengah: APBN Indonesia Terancam Krisis Minyak

admin
Gejolak Timur Tengah: APBN Indonesia Terancam Krisis Minyak

Agresi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026, segera memicu gejolak signifikan di pasar minyak mentah global. Kenaikan harga komoditas strategis ini sontak menimbulkan kekhawatiran serius bagi Indonesia, khususnya terhadap potensi beban tambahan pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Moshe Rizal, pakar industri migas dari Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas Nasional (Aspermigas), memperingatkan bahwa harga komoditas minyak dan gas (migas) berisiko melonjak lebih tinggi lagi menyusul penutupan Selat Hormuz. Selat vital ini, yang merupakan jalur arteri perdagangan migas dunia, diumumkan ditutup oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) pada hari yang sama, 28 Februari, di tengah eskalasi ketegangan regional yang memanas.

Gejolak Timur Tengah: APBN Indonesia Terancam Krisis Minyak
Gambar Istimewa : statik.tempo.co

"Implikasinya, akan ada peningkatan drastis biaya logistik dan kenaikan harga komoditas migas secara menyeluruh," jelas Moshe. "Sebagai negara net importir bahan bakar, dampak ini akan sangat terasa pada harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri," tambahnya saat dihubungi pada Ahad, 1 Maret 2026.

Data dari Trading Economics yang dirilis pada Jumat, 27 Februari 2026, telah menunjukkan tren kenaikan yang mengkhawatirkan. Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) tercatat naik menjadi US$ 67 per barel, mendekati rekor tertinggi dalam tujuh bulan terakhir. Sementara itu, minyak mentah Brent juga terkerek naik menjadi US$ 73 per barel, hampir mencapai puncak delapan bulan. Pada penutupan perdagangan 28 Februari, WTI sedikit menguat ke US$ 67,2 per barel, dan Brent berada di US$ 72,8 per barel, mengindikasikan pasar yang sangat volatil.

Beban Subsidi dan Defisit APBN Membengkak

Beban APBN diprediksi akan membengkak, terutama untuk menanggung subsidi BBM. Dengan asumsi makro APBN yang menetapkan harga minyak mentah di US$ 70 per barel, eskalasi konflik berpotensi mendorong harga jauh melampaui angka tersebut. Jika skenario ini terjadi, pemerintah terpaksa menanggung selisih harga yang lebih besar demi menjaga stabilitas harga BBM bersubsidi bagi masyarakat. Akibatnya, alokasi anggaran yang telah direncanakan untuk subsidi berisiko meleset dari target awal.

"Bujet yang sudah kita proyeksikan di akhir tahun lalu untuk 2026, bisa saja menjadi tidak relevan," ungkap Moshe, menyoroti tantangan fiskal yang dihadapi negara.

Lonjakan harga minyak mentah juga membawa dampak domino pada nilai tukar rupiah. Ketergantungan Indonesia pada impor minyak mentah dan BBM, yang transaksinya didominasi dolar Amerika Serikat, berarti kenaikan harga akan secara otomatis meningkatkan kebutuhan dolar. Tekanan beli terhadap mata uang dolar ini berpotensi besar melemahkan rupiah di pasar valuta asing.

Pada akhirnya, situasi ini diperkirakan akan memperparah defisit APBN. "Dengan adanya perang ini, defisit anggaran bisa menjadi lebih parah, bahkan bisa membuat semua sektor mengalami defisit," tegas Moshe, menggambarkan skenario terburuk bagi keuangan negara.

Respon Iran dan Eskalasi Konflik

Serangan gabungan AS-Israel terhadap Iran ini terjadi di tengah alotnya negosiasi terkait program nuklir Teheran. Mengutip laporan faseberita.id, Teheran merespons agresi tersebut dengan meluncurkan gelombang rudal dan drone ke wilayah Israel serta beberapa pangkalan militer di Timur Tengah yang menjadi markas pasukan AS.

Iran sebelumnya telah memberikan peringatan keras bahwa setiap serangan akan dibalas dengan menargetkan fasilitas militer AS di seluruh kawasan. "Operasi balasan ini akan terus berlanjut tanpa henti hingga musuh dikalahkan secara telak," demikian pernyataan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC), menunjukkan tekad mereka untuk tidak menyerah.

Selain melancarkan serangan balasan, IRGC juga secara resmi mengumumkan blokade Selat Hormuz pada 28 Februari 2026, sebuah langkah yang semakin memperkeruh situasi global dan menimbulkan implikasi ekonomi yang mendalam bagi banyak negara, termasuk Indonesia.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *