faseberita.id – Menghadapi ketidakpastian ekonomi global yang diprediksi masih membayangi hingga tahun 2026, sektor energi alternatif kini mulai menunjukkan taringnya. Salah satu pemain utama yang tengah mencuri perhatian pasar adalah PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS). Perusahaan yang bergerak di bidang distribusi Compressed Natural Gas (CNG) atau gas alam terkompresi ini mematok target ambisius di tengah dinamika pasar energi nasional yang terus berubah.
Dalam proyeksi bisnisnya, CGAS optimis mampu membukukan pendapatan mencapai angka Rp 879 miliar pada tahun 2026. Tidak hanya mengejar omzet, perusahaan juga menargetkan perolehan laba bersih yang cukup menjanjikan, yakni sebesar Rp 23,9 miliar. Optimisme ini bukan tanpa alasan, mengingat permintaan akan energi yang lebih efisien dan ramah lingkungan terus meningkat.

Presiden Direktur Citra Nusantara Gemilang, Andhika Purwonugroho, mengungkapkan bahwa pada kuartal III-2026, perusahaan memproyeksikan pertumbuhan pendapatan sekitar 20 persen secara tahunan (year-on-year). Meskipun kondisi pasokan gas di wilayah Jawa Barat kerap mengalami dinamika, CGAS berkomitmen untuk tetap menjaga stabilitas suplai bagi para pelanggannya. Langkah strategis yang diambil adalah dengan memperkuat infrastruktur distribusi yang menghubungkan wilayah Jawa Barat hingga ke Jawa Timur.
Salah satu tantangan terbesar dalam bisnis distribusi gas adalah logistik dan infrastruktur. Untuk menjawab tantangan tersebut, CGAS fokus pada optimalisasi aset infrastruktur gas yang telah mereka miliki. Strategi ini bertujuan agar permintaan pasar yang terus melonjak dapat terpenuhi dengan lancar tanpa terkendala masalah distribusi di lapangan.
Menariknya, CGAS tidak hanya terpaku pada segmen industri besar. Perusahaan mulai melakukan diversifikasi pasar dengan menyasar segmen ritel. Langkah ini diambil untuk memperluas pangsa pasar dan menciptakan aliran pendapatan yang lebih stabil. Sebagai bagian dari rencana ekspansi jangka panjang, CGAS menargetkan penambahan dua stasiun gas baru, sehingga total stasiun gas yang mereka kelola akan mencapai sembilan titik pada tahun 2027 mendatang.
Kehadiran CNG sebagai alternatif energi juga memiliki peran krusial dalam peta energi nasional, terutama dalam upaya menekan ketergantungan Indonesia terhadap impor LPG. Dengan memanfaatkan gas alam yang tersedia secara domestik dan mengolahnya menjadi CNG, Indonesia dapat mengurangi beban devisa negara akibat impor bahan bakar fosil.
Melalui penguatan infrastruktur dan perluasan basis pelanggan, CGAS berupaya memposisikan diri sebagai pemimpin dalam distribusi gas terkompresi. Langkah ekspansif ini diharapkan tidak hanya mendatangkan keuntungan bagi pemegang saham, tetapi juga memberikan solusi energi yang lebih berkelanjutan bagi masyarakat dan sektor industri di Indonesia.







