News  

Tentara AS Terancam 20 Tahun Penjara

admin
Tentara AS Terancam 20 Tahun Penjara

faseberita.id – Dunia militer Amerika Serikat tengah diguncang oleh skandal besar yang melibatkan penyalahgunaan informasi rahasia negara demi keuntungan finansial pribadi. Seorang tentara aktif bernama Gannon Ken Van Dyke kini terancam mendekam di balik jeruji besi selama 20 tahun setelah diduga melakukan praktik perdagangan orang dalam (insider trading) yang sangat masif.

Kasus ini mencuat setelah terungkap bahwa Van Dyke memanfaatkan data sensitif terkait operasi militer Amerika Serikat untuk meraup keuntungan fantastis. Berdasarkan dakwaan federal, tentara yang bertugas di Fort Bragg, North Carolina ini diduga menggunakan informasi rahasia mengenai misi penangkapan pemimpin Venezuela, Nicolas Maduro, untuk memasang taruhan di platform pasar prediksi berbasis blockchain, Polymarket.

Tentara AS Terancam 20 Tahun Penjara
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Dari aktivitas ilegal tersebut, Van Dyke diduga berhasil mengantongi keuntungan bersih mencapai US$400.000 atau setara dengan kurang lebih Rp7,2 miliar. Tindakan ini dianggap sebagai pelanggaran berat terhadap kepercayaan negara, mengingat informasi yang digunakan bersifat sangat rahasia dan berkaitan langsung dengan keamanan nasional.

Menurut laporan yang dihimpun, Van Dyke mulai melakukan aksi spekulasi ini pada periode Desember hingga Januari. Ia tercatat melakukan sekitar 13 taruhan dengan total nilai mencapai US$33.034. Taruhan-taruhan tersebut mencakup prediksi mengenai keterlibatan pasukan AS di Venezuela serta prediksi mengenai jatuhnya kekuasaan Maduro sebelum tenggat waktu 31 Januari.

Setelah berhasil meraup keuntungan besar, Van Dyke diduga mencoba menghilangkan jejak dengan memindahkan sebagian besar dana tersebut ke brankas kripto di luar negeri. Dana tersebut kemudian dialihkan ke akun broker daring baru untuk menyamarkan asal-usul uang hasil kejahatannya. Ia juga dilaporkan berupaya keras menyembunyikan identitas aslinya di platform Polymarket setelah muncul laporan mengenai aktivitas perdagangan yang tidak wajar terkait kontrak Maduro.

Pelaksana tugas Jaksa Agung AS, Todd Blanche, memberikan peringatan keras terkait kasus ini. Ia menegaskan bahwa setiap personel militer diberikan akses ke informasi rahasia semata-mata untuk memastikan misi berjalan aman dan efektif, bukan untuk memperkaya diri sendiri. Blanche menekankan bahwa meskipun pasar prediksi berbasis blockchain adalah fenomena baru, hukum federal mengenai perlindungan informasi keamanan nasional tetap berlaku mutlak.

Saat ini, Van Dyke menghadapi serangkaian dakwaan berat, termasuk pelanggaran Commodity Exchange Act, penipuan melalui transmisi elektronik (wire fraud), serta transaksi moneter ilegal. Setiap dakwaan tersebut membawa ancaman hukuman maksimal hingga 20 tahun penjara.

Pihak Polymarket sendiri menyatakan telah bekerja sama dengan Departemen Kehakiman AS dalam penyelidikan ini. Mereka mengonfirmasi telah mengidentifikasi adanya pengguna yang berdagang menggunakan informasi pemerintah yang bersifat rahasia. Hingga saat ini, pihak Angkatan Darat AS maupun Van Dyke sendiri belum memberikan komentar resmi terkait proses hukum yang sedang berjalan.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *