faseberita.id – Emiten yang tengah gencar melakukan transformasi menuju sektor energi berkelanjutan, PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), menunjukkan sinyal positif dalam laporan keuangan terbarunya. Perusahaan mencatatkan perbaikan kinerja yang cukup signifikan dengan menekan angka kerugian bersih secara drastis pada kuartal III-2026.
Berdasarkan data laporan keuangan yang dirilis, TOBA berhasil menyusutkan rugi bersih konsolidasiannya hingga 72 persen. Jika pada periode yang sama tahun sebelumnya perusahaan harus menanggung kerugian sebesar US$127,9 juta, kini angka tersebut berhasil ditekan menjadi US$35,4 juta atau setara dengan Rp641,44 miliar.

Direktur sekaligus Chief Financial Officer (CFO) TBS Energi Utama, Juli Oktarina, menjelaskan bahwa angka kerugian yang tercatat pada periode ini tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi operasional yang buruk. Sebagian besar beban yang muncul merupakan beban non-kas yang berkaitan dengan langkah strategis perusahaan.
Salah satu faktor utama yang memengaruhi angka tersebut adalah beban terkait akuisisi Cora Environment Pte. Ltd. Akuisisi ini merupakan bagian dari langkah ekspansi perusahaan di sektor lingkungan. Beban yang muncul didominasi oleh biaya depresiasi dan amortisasi yang sifatnya non-tunai.
Selain itu, perusahaan juga mencatatkan beban sewaktu yang muncul akibat proses refinancing atau pembiayaan kembali pinjaman senior pada entitas bisnis pengelolaan limbah milik perseroan. Langkah refinancing ini diambil dengan tujuan strategis, yakni untuk menekan biaya modal (cost of capital) sekaligus memperkuat struktur permodalan perusahaan agar lebih sehat di masa depan.
Juli menegaskan bahwa kondisi rugi bersih saat ini sebenarnya sudah sesuai dengan proyeksi dan ekspektasi manajemen. Hal ini merupakan konsekuensi logis dari fase transisi besar-besaran yang sedang dijalani perusahaan, yakni bergeser dari ketergantungan pada bisnis batu bara menuju ekosistem energi berkelanjutan.
Di sisi lain, dari sisi pendapatan, TOBA mencatatkan angka sebesar US$257,3 juta. Meski menunjukkan angka yang besar, pendapatan ini mengalami penurunan sebesar 11 persen jika dibandingkan dengan periode tahun lalu. Penurunan ini disebabkan oleh berkurangnya pemasukan dari lini bisnis lama (legacy business) perusahaan yang memang sedang dikurangi porsinya.
"Kami tetap berkomitmen untuk melanjutkan transformasi kami seiring terus memperbesar bisnis infrastruktur berkelanjutan kami di Indonesia dan kawasan Asia, sementara pada saat yang sama, tetap mengelola bisnis legacy kami secara bertanggung jawab," ujar Juli dalam keterangan resminya yang dikutip pada Jumat (30/10/2026).
Menutup laporan keuangannya, TOBA mencatatkan total aset mencapai US$751,68 juta. Sementara itu, posisi ekuitas perusahaan tercatat sebesar US$172,04 juta dengan total liabilitas atau kewajiban sebesar US$579,63 juta. Langkah efisiensi dan transformasi ini diharapkan dapat membawa TOBA menjadi pemain utama dalam industri energi hijau di masa mendatang.







