faseberita.id – Nilai tukar rupiah kembali menghadapi ujian berat setelah menembus angka psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Tekanan terhadap mata uang Garuda ini memicu kekhawatiran di pasar keuangan, namun pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) bergerak cepat memberikan jaminan stabilitas melalui penguatan sisi fiskal.
Kondisi pelemahan rupiah ini terlihat jelas pada penutupan perdagangan Kamis (22/10/2026). Berdasarkan data dari Refinitiv, rupiah harus menutup hari di level Rp18.045 per dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 0,25 persen atau melemah sekitar 45 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari sebelumnya yang berada di level Rp18.000 per dolar AS. Fenomena ini terjadi meski indeks dolar AS sebenarnya sedang menunjukkan tren pelemahan.

Menanggapi situasi yang kian dinamis ini, Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya untuk menjaga disiplin fiskal sebagai benteng pertahanan ekonomi nasional. Direktur Jenderal Stabilitas dan Pengembangan Sistem Keuangan (SPSK) Kemenkeu, Herman Saheruddin, menjelaskan bahwa penanganan langsung terhadap fluktuasi nilai tukar merupakan domain dari Bank Indonesia (BI) melalui kebijakan moneter.
"Jika ditanya mengenai detail teknis penanganan rupiah, rekan-rekan di Bank Indonesia yang dapat memberikan penjelasan lebih mendalam. Prinsip utama dari sisi kami adalah memastikan kondisi fiskal tetap terjaga dengan kuat," ujar Herman saat memberikan keterangan kepada awak media di Jakarta.
Herman menekankan pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal yang dijalankan pemerintah dan kebijakan moneter yang dikelola oleh bank sentral. Ia menegaskan bahwa pemerintah sangat menghormati independensi Bank Indonesia dalam mengambil keputusan strategis terkait suku bunga dan pengaturan jumlah uang beredar. Menurutnya, kedua instrumen ini harus bekerja secara harmonis layaknya sebuah tim sepak bola yang memiliki peran berbeda namun satu tujuan.
"Dalam tim, ada yang bertugas bertahan (defend), ada yang melakukan serangan (attacking), dan ada yang menjadi pengatur serangan (playmaker). Begitu pula dengan fiskal dan moneter; kita saling bersinergi untuk menjaga stabilitas ekonomi negara," tambahnya dengan analogi yang lugas.
Lebih lanjut, Herman menyoroti langkah-langkah proaktif yang telah diambil oleh Bank Indonesia untuk meredam gejolak ekonomi. Salah satunya adalah kebijakan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM), sementara suku bunga acuan tetap dipertahankan pada level saat ini untuk menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas.
Di tengah ketidakpastian pasar global, pemerintah mengimbau masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak panik. Herman mengajak seluruh elemen bangsa untuk tetap menaruh kepercayaan tinggi terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang dinilai masih cukup tangguh. "Saya rasa kita harus tetap percaya diri terhadap negara kita sendiri (be confident on our country)," pungkasnya.







