News  

Rupiah Melesat Tajam Lawan Dolar AS

admin
Rupiah Melesat Tajam Lawan Dolar AS

faseberita.id – Mata uang Garuda menunjukkan taringnya dalam perdagangan tengah pekan ini. Nilai tukar rupiah mencatatkan penguatan yang cukup signifikan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (30/9/2026). Berdasarkan data terbaru dari Refinitiv, rupiah berhasil terapresiasi sebesar 0,53% ke posisi Rp17.865 per dolar AS pada pukul 11.06 WIB.

Pergerakan positif ini terlihat sejak pembukaan pasar. Rupiah mengawali perdagangan di level Rp17.910 per dolar AS, yang berarti mata uang nasional telah menguat 45 poin dari posisi pembukaan. Jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan pada Selasa (29/9/2026) yang berada di level Rp17.960 per dolar AS, rupiah tercatat telah melompat sejauh 95 poin. Penguatan ini menjadi angin segar bagi pasar domestik karena berhasil menjauhkan rupiah dari level psikologis Rp18.000 per dolar AS yang sempat ditembus pada perdagangan sebelumnya.

Rupiah Melesat Tajam Lawan Dolar AS
Gambar Istimewa : awsimages.detik.net.id

Analis teknikal senior dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia, M. Nafan Aji Gusta, menjelaskan bahwa pembalikan arah sentimen pasar ini dipicu oleh meredanya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah. Kabar mengenai kemungkinan Gedung Putih untuk meninjau kembali sanksi terhadap Iran menjadi katalis utama yang menenangkan investor.

"Sentimen pasar mulai berbalik positif menyusul laporan bahwa pihak Amerika Serikat terbuka untuk mempertimbangkan peninjauan sanksi terhadap Iran guna meredakan tensi konflik di Timur Tengah," ungkap Nafan dalam laporan strategi pasar terbarunya yang dikutip pada Rabu (30/9/2026).

Kondisi geopolitik yang lebih stabil ini berdampak langsung pada komoditas energi global. Kekhawatiran akan gangguan pasokan energi mulai mereda, yang kemudian menekan harga minyak mentah dunia. Pada penutupan perdagangan Selasa, harga minyak mentah jenis WTI merosot tajam 3,95% ke level US$88,95 per barel, sementara minyak Brent juga terkoreksi 1,99% ke posisi US$95,88 per barel. Turunnya harga minyak ini dinilai mampu meredakan tekanan inflasi global secara keseluruhan.

Di sisi lain, imbal hasil (yield) US Treasury tenor 10 tahun juga ikut terkoreksi tipis sebesar 0,10% ke level 5,24%. Namun, para pelaku pasar diimbau untuk tetap waspada karena sejumlah data ekonomi krusial dari Amerika Serikat masih dinantikan. Data tersebut meliputi indeks harga pengeluaran konsumsi pribadi (PCE), angka pertumbuhan ekonomi, hingga laporan ketenagakerjaan nonfarm payrolls.

Pasar saat ini tengah memantau apakah inflasi PCE utama akan bertahan di level 3,7% dan PCE inti di angka 3,3%, mengingat keduanya masih berada di atas target inflasi Federal Reserve (The Fed) yang sebesar 2%. Selain itu, kuatnya konsumsi masyarakat Amerika Serikat yang diprediksi tumbuh 0,8% pada Agustus menjadi faktor yang patut diwaspadai.

"Kombinasi antara inflasi yang masih tinggi dan daya beli konsumen yang tetap tangguh bisa menjadi sinyal bahwa permintaan domestik di AS belum melemah secara signifikan untuk menekan harga," tambah Nafan. Situasi ini membuat pergerakan rupiah ke depan akan sangat bergantung pada rilis data ekonomi AS tersebut.

Ikuti Kami di Google News:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *