faseberita.id – Gejolak nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menyentuh level kritis 18.000 per dolar AS memicu kekhawatiran serius di kalangan masyarakat. Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia FKBI Tulus Abadi memperingatkan bahwa kondisi ini berpotensi besar memicu lonjakan harga obat obatan dan vitamin yang tak terhindarkan.
Tulus menjelaskan bahwa ancaman kenaikan harga ini bukan isapan jempol semata. Pasalnya sekitar 85 hingga 90 persen bahan baku produksi obat di tanah air masih sangat bergantung pada pasokan impor. Merosotnya daya beli rupiah terhadap mata uang asing secara otomatis akan mendongkrak biaya produksi yang ujungnya dibebankan kepada konsumen.

Dampak domino dari situasi ini sangat luas. Pertama rasio konsumsi obat masyarakat Indonesia yang sudah tergolong rendah diprediksi akan semakin anjlok. Harga yang kian mahal akan membuat akses terhadap pengobatan esensial semakin sulit dijangkau. Kedua anggaran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial BPJS Kesehatan juga terancam membengkak. Fasilitas kesehatan kemungkinan besar akan mengajukan klaim yang lebih tinggi sehingga membebani keuangan BPJS Kesehatan.
Tidak hanya konsumen dan BPJS Kesehatan industri farmasi khususnya skala menengah ke bawah juga menghadapi ancaman serius. Jika mereka kesulitan membeli bahan baku impor akibat pelemahan rupiah operasional produksi bisa terhenti total. Tulus menegaskan skenario terburuknya adalah gulung tikar dan pemutusan hubungan kerja PHK massal menjadi tak terhindarkan.
Menyikapi tekanan ini Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menyatakan komitmennya untuk memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter. Langkah ini diharapkan mampu menstabilkan nilai tukar rupiah. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa optimistis sinergi penuh antara kedua lembaga akan mengembalikan kepercayaan pasar dan mendorong penguatan rupiah secara signifikan.







